“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)
Photobucket"
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat-kan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian dengan sekuat-kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia (Allah) akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “Do’a seorang muslim untuk saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat yang bertugas (mengaminkan do'anya untuk saudaranya). Setiap kali dia mendo'akan kebaikan untuk saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, dan engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” [HR. Muslim]

TRANSLATE THIS PAGE INTO YOUR LANGUAGE

Sabtu, 05 April 2014

BISIKAN DETAK JARUM JAM, UNTUK YANG TERLENA

Hari ini ada di hadapan, boleh jadi besok tak ada.
Hari ini ada dalam dekapan, boleh jadi besok tak ada.
Hari ini ada untuk bergurauan, boleh jadi besok tak ada.
Kala ini berbanggaan, di waktu lain malu muka.
Kala ini harta bergelimangan, di waktu lain jadi dhuafa.
Kala ini sehat bak olahragawan, di waktu lain sakit tanpa daya.
Kala ini tertawa berlimpahan kesenangan, di waktu lain menangis bersua nestapa.
Kala ini hidup memikul banyaknya keinginan, di waktu lain mati hilang sejuta keinginan penyesalan yang tersisa.
Yang datang pasti akan pergi.
Yang berjumpa pasti akan berpisah.
Yang ada pasti akan menghilang.
Yang hidup pasti akan mati.
Dunia fana dan palsu, takan selamanya.
Detakan jarum jam membisikan tanda kepalsuan dunia yang melenakan, namun akan berakhir.
Tidak sadarkah bahwa jam senantiasa berbisik?
Membisikan peringatan.
Mungkin karena terlena, maka bisikan itu tak terdengar atau mungkin diabaikan.


Kamis, 19 Agustus 2010 / 10.23 WIB / Zilfia Firani

"Syairku, Syair Kematian"

Wahai manusia
Tidakah kau merasakan waktu semakin cepat berlalu
Waktu seolah berlari meninggalkanmu
Meninggalkan kau yang terdiam dalam lamunan kelabu
Meninggalkan kau yang sibuk dengan angan-angan semu
Satu bulan ke bulan berikutnya bagai tujuh hari
Satu Jum'at ke Jum'at berikutnya bagai sehari
Satu hari bagai petang dimana matahari beranjak pergi

Wahai manusia
Jasad bernyawa sesungguhnya sedang menunggu antrian
Mengantri kelanjutan panjangnya perjalanan yang dijanjikan
Sungguh sebenarnya kau sedang mengantri untuk merasakanku
Apa yang saat ini kau banggakan?
Harta berlimpah yang kau banggakan?
Sungguh takan kau bawa harta berlimpahmu bila tiba saat yang menyesakan dan tak terelakan
Wajah cantik atau tampan yang kau banggakan?
Sungguh takan lama lagi waktu akan melunturkannya kemudian belatung akan menggerogoti wajah yang kau banggakan

Orang yang paling kau cintai pun tak sudi menemani
Orang yang paling kau cintai kelak sesekali sekedar mengenangmu kemudian sibuk dengan urusannya

Wahai manusia
Sering kali kau sangat percaya diri
Begitu yakin aku masih lama
Kau masih sibuk berlomba-lomba dalam dunia
Kau mash sibuk berbangga-bangga
Kau masih sibuk tertawa-tawa
Kau masih sibuk berhura-hura
Kau masih sibuk berbuat sia-sia
Kau masih sibuk berbicara suka-suka

Malaikat maut akan datang tanpa lebih dulu mengabarimu
Malaikat maut akan mendatangimu meski kau bersembunyi dalam benteng yang kokoh
Aku adalah gerbang menuju perjalanan panjang
Aku bukanlah awal peristirahatan
Aku adalah gerbang menuju tempat pertanggung jawaban
Aku bukanlah menyenangkan
Aku adalah gerbang tempatmu meninggalkan nikmatnya dunia

Kini tuhanmu memilih diam
Akan tiba masa dimana tuhanmu akan berbicara
Dan kau dipaksa untuk tunduk dan diam
Dia yang maha Mulia
Jubah kesombongan dan kebanggaan hanya pantas bagi-Nya
Lalu mengapa kau lancang mengenakannya saat berjalan di dunia?

Nafasmu esok hari tak pasti namun aku sangatlah pasti
Aku telah dijanjikan padamu
Aku adalah kematian




Zilfia Firani
(Annisa Abdurrahim)

Senin, 06 Januari 2014

PERNIKAHAN

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Saat melihat pernikahan, aku yakin pasangan yang menikah tersebut pasti memiliki kesamaan.. Mungkin kesamaan hobi atau kesukaan, mungkin kesamaan tujuan, mungkin kesamaan pemikiran, mungkin kesamaan sifat, mungkin kesamaan akhlak, mungkin kesamaan kualitas iman dan beragam kesamaan lainnya..

Fitrahnya, seseorang pasti cenderung pada orang yang memiliki kesamaan dengannya.
Wanita berhijab syar'i langsung merasa dekat bila bertemu dengan wanita lain yang berhijab syar'i.

Pernah aku mengetahui seorang istri berakhlak baik, dan ternyata begitu pula-lah suaminya.. Pernah juga aku mengetahui seorang istri berakhlak kurang baik, dan ternyata begitu pula-lah suaminya.. Suami cerminan istri dan istri cerminan suami.. MaasyaAllah...

Tetapi jika Allah berkehendak, bisa terjadi salah satunya di suatu hari akan mengalami perubahan. Jika perubahan itu drastis, dan semakin hari perbedaan itu semakin tajam, maka insya Allah akan berpisah.. Seperti nabi Nuh berpisah dengan istrinya, Fir'aun berpisah dengan istrinya, nabi Ismail berpisah dengan istri pertamanya..

Contoh : Seorang taat dan seorang pecandu minuman keras. Tiga kemungkinan yang bisa terjadi :
# Pecandu minuman keras akhirnya bertaubat dan ikut menjadi taat
# Si taat justru terpengaruh dan menjadi pecandu minuman keras
# Mereka tidak pernah menjadi sahabat karib, mungkin hanya sebatas kenal atau teman biasa

Perhatikanlah dengan orang-orang seperti apa Rasulullah bersahabat.. Sahabat beliau shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang luar biasa..
Perhatikanlah dengan wanita-wanita seperti apa Rasulullah menikah.. Istri-istri beliau shallallahu alaihi wasallam adalah wanita-wanita istimewa, terlebih lagi Khadijah binti Khuwalid dengan akhlak terpujinya..

Jika engkau melihat keburukan pada pasanganmu, janganlah terburu-buru menganggap dirimu lebih baik dari dia.. Boleh jadi itu merupakan cara Allah memberitahukan padamu tentang kekuranganmu atau keburukanmu.. Dan jika Allah "menegurmu", percayalah bahwa sebenarnya Allah ingin agar engkau menjadi manusia yang lebih baik..

Fitrahnya, seseorang pasti cenderung pada orang yang memiliki kesamaan dengannya.

Wallahua'lam..


(Annisa Abdurrahim)





======================================


Ada 4 tipe suami istri di dalam Al Qur'an..

1. Tipe Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam
-suami nya shalih di bawah bimbingan wahyu dan istrinya mendukung penuh dalam dakwah
2. Tipe Nabi Luth dan Nabi Nuh
=suaminya shalih, tapi istrinya ingkar dan durhaka
3. Tipe Fir'aun dan istrinya (Asiyah)
=suaminya durhaka pada Allah dan calon penghuni neraka, tapi istrinya shalihah..
4. Tipe Abu Lahab dan istrinya
=sama2 kafir, mebentang dakwah, bahkan menjadi penghunk neraka, wal iyyadzubillah

Ustadz Aris

Rabu, 16 Oktober 2013

Mengharap Ridho Allah

semoga kalian mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah Ta’ala.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah. Isinya sebagai berikut.

سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ ». وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ.
“Salam untukmu. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa mencari ridho Allah dengan membuat manusia murka, maka Allah akan bereskan urusannya dengan sesama manusia. Tetapi barang siapa mencari ridho manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan serahkan orang tersebut kepada manusia’ Wassalamu ‘alaika.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Al Qoulul Mufid mengatakan, “Apabila seseorang mencari ridho Rabbnya dengan niat yang tulus, maka Allah akan ridho kepadanya karena dialah yang paling mulia dari hamba-Nya… karena hati seseorang di antara dua jari dari jari-jemari Allah ta’ala. Allah-lah yang membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. …Dan barang siapa yang mencari ridha manusia namun membuat Allah murka, maka hasilnya adalah dia akan mendapatkan lawan dari maksudnya tersebut.”

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Semoga kita mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah Ta’ala.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah.
Isinya sebagai berikut.

سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ ». وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ.

“Salam untukmu. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa mencari ridho Allah dengan membuat manusia murka, maka Allah akan bereskan urusannya dengan sesama manusia. Tetapi barang siapa mencari ridho manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan serahkan orang tersebut kepada manusia’ Wassalamu ‘alaika.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Al Qoulul Mufid mengatakan, “Apabila seseorang mencari ridho Rabbnya dengan niat yang tulus, maka Allah akan ridho kepadanya karena dialah yang paling mulia dari hamba-Nya… Karena hati seseorang di antara dua jari dari jari-jemari Allah ta’ala. Allah-lah yang membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. …Dan barang siapa yang mencari ridha manusia namun membuat Allah murka, maka hasilnya adalah dia akan mendapatkan lawan dari maksudnya tersebut.”

Dari artikel 'Muslim.Or.Id'

Syair Al Imam asy-Syafi'i

 Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Al-Imam asy-Syafi'i berkata dalam syairnya:

ما في المقامِ لذي عقلٍ وذي أدبٍ
مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب
"Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan)

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ
وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ
إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
Sungguh aku melihat, air yang tergenang dalam diamnya, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan. Tidak demikian jika ia tidak bergerak mengalir.

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب
Sekawanan singa, andai tidak meninggalkan sarangnya, niscaya kebuasannya tidak lagi terasah, ia pun akan mati karena lapar. Anak panah, andai tidak melesat meninggalkan busurnya, maka jangan pernah bermimpi akan mengenai sasaran.

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة
لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ
Sang surya, andai selalu terpaku di ufuk, niscaya ia akan dicela oleh segenap ras manusia, dari ras arabia, tidak terkecuali selain mereka.

والترب كالترب ملقى في أماكنه
والعودُ في أرضه نوعاً من الحطب
Dan bijih emas yang masih terkubur di bebatuan, hanyalah sebongkah batu tak berharga, yang terbengkalai di tempat asalnya. Demikian halnya dengan gaharu di belantara hutan, hanya sebatang kayu, sama seperti kayu biasa lainnya.

إن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ
وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَب
Andai saja gaharu tersebut keluar dari belantara hutan, ia adalah parfum yang bernilai tinggi. Dan andaikata bijih itu keluar dari tempatnya, ia akan menjadi emas yang berharga.

*Dinukil dan diterjemahkan secara bebas berdasarkan Syarh Diwan asy-Syafi'i (hal. 25-27), Muhammad Ibrahim Salim, Cet. Maktabah Ibn. Sina - Mesir.

***

Artikel: kristaliman.wordpress.com

Sabtu, 21 September 2013

Mahabbah

Bismillaahirrahmaannirrahiim..

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, 
"Cinta yang bermanfaat bagi pelakunya ada 3 macam:
1. Mencintai Allah
2. Mencintai (seseorang) karena Allah
3. Mencintai sarana yang dapat membantu seseorang untuk menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya."



"Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku." (Al Baqarah:152)


"Setiap persahabatan, kecintaan, dan perkawanan akan berubah pada hari kiamat menjadi permusuhan dan kebencian kecuali kecintaan yang dibangun di atas ketakwaan." (Ustadz Dzulqarnain hafizhahullahu ta'aala)


Tiada seorang muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya,kecuali malaikat berkata: 'Dan untukmu juga seperti itu'. (HR.Muslim)


"Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan." (HR Muslim dari Jarir bin Adillah)


Sakit Tanda Cinta Allah Kepada Hamba

 Bismillaahirrahmaannirrahiim..
 
Al-hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Musibah itu datangnya dari Allah Ta'ala. Terkadang ia menjadi bukti kecintaan-Nya kepada seorang hamba. Ia laksana obat, walaupun pahit ia akan meminumnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. 

Dalam hadits Shahih disebutkan,
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum pasti Dia menguji mereka. Maka siapa yang ridha (terhadapnya) maka baginya keridhaan Allah, dan siapa yang marah (terhadapnya) maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah) 

Karenanya, orang yang paling banyak menerima musibah adalah para nabi dan rasul. Dengan itu, Allah mengangkat derajat mereka, meneguhkan kebenaran mereka, dan menjadikan mereka sebagai teladan bagi semua makhluk.

Di antara musibah yang Allah timpakan kepada hamba dalah sakit. Seorang mukmin melihatnya sebagai sebab yang menghapuskan dosa-dosanya. Penyakit-penyakit yang menimpanya sebagai kafarat (penebus) atas kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.

Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Al-Syuura: 30)

Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhuma, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا يُصيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ ، وَلاَ حَزَنٍ ، وَلاَ أذَىً ، وَلاَ غَمٍّ ، حَتَّى الشَّوكَةُ يُشَاكُهَا إلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَاياهُ
"Tidak ada sesuatu yang menimpa seorang muslim berupa rasa capek, sakit, cemas, sedih, gangguan, dan rasa susah; sampaipun duri yang mengenainya kecuali Allah akan menjadikannya sebagai kafarah (penghapus) dari kesalahan-kesalahannya." (HR. al-Bukhari dan muslim)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَا يَزَالُ البَلاَءُ بالمُؤمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ في نفسِهِ ووَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى الله تَعَالَى وَمَا عَلَيهِ خَطِيئَةٌ
"Tidaklah seorang mukmin dan mukminan tertimpa musibah pada dirinya, anaknya dan hartanya sehingga ia berjumpa Allah Ta'ala tidak membawa satu kesalahanpun." (HR. Al-Tirmidzi. Beliau berkata: hadits hasan shahih)

Dalam al-Shahih disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah menjenguk seorang badui yang sedang sakit. Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila menjenguk orang sakit beliau berkata padanya,
لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
"Tidak apa-apa, Insya Allah Suci (dari dosa-dosa dan kesalahan)." Sang badui tadi menyahut, "Engkau mengatakan suci! Oh Tidak, tetapi ia itu demam tinggi atas orang tua yang menghantarkannya ke kubur." Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, "kalau begitu ya." Maksudnya: bagimu apa yang engkau inginkan dan engkau takut mati.

Sakit adalah sebab untuk memperoleh pahala besar dan derajat tinggi di sisi Allah. Syaratnya, apabila orang tersebut bersabar dan ridha dengan apa yang menimpanya serta meminta pahala kepada Allah atas apa yang menimpanya tersebut..

Sakit juga bisa mendekatkan seorang hamba kepada Tuhan-nya dan menjadi sebab turunnya ampunan dan rahmat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi; Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla  akan berfirman pada hari kiamat, "Wahai anak Adam, Aku sakit engkau tidak menjengukku." Ia berkata: Wahai Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam. Allah menjawab, "Tidakkah kamu tahu hamba-Ku si fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya. Tidakkah kamu tahu jika kamu menjenguknya kamu dapati aku ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ ، يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلاَءِ الثَّوَابَ ، لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بالْمَقَارِيضِ
"Orang-orang yang sehat saat melihat pahala yang diberikan kepada ahlul bala' (banyak dapat musibah) nanti di hari kiamat berkeinginan kalau saja kulit-kulit mereka dipotong dengan gunting saat di dunia." (HR. al-Tirmidzi dan dihassankan Syaikh Al-Albani) tujuannya agar mendapatkan pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang tertimpa banyak musibah di dunia.

Dari Abu Musa al-Asy'ari, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Apabila meninggal anak seorang hamba, maka Allah berfirman kepada malaikat-Nya, 'kalian telah ambil anak hamba-Ku?' Mereka menjawab, 'Ya'.

Lalu Allah berfirman, 'Kalian telah ambil buah hatinya?' Mereka menjawab, 'Ya'.
Allah berfirman, 'apa yang dikatakan hamba-Ku?' Mereka menjawab, 'Ia memuji-Mu dan beristirja." Maka Allah berfirman, 'Bangunkan satu rumah untuk hamba-Ku di surga, dan namai rumah itu bait al-Hamd (rumah pujian)'." (HR. Al-Tirmidzi. Beliau berkata: hadits hasan)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاءِ،وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاهُمْ،فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا،وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya, apabila Allah suka kepada suatu kaum maka Allah berikan cobaan kepada mereka; siapa yang ridha maka bainya keridhaan (Allah) dan siapa yang marak baginya kemurkaan (Allah)." (Al-Tirmidzi)

Sakit juga bisa melenyapkan sifat sombong dan banga diri dari hati pencari ridha Allah. Ibnul Qayyim berkata, "Kalau tidak ada cobaan dan musibah dunia niscaya seorang hamba akan tertimpa penyakit sombong, ujub, congkak, dan kerasnya hati yang semua itu adalah sebab kehancurannya di dunia dan akhirat."

Doa Nabi Ibrahim, Hati Manusia Jadi Cenderung Ke Ka’bah

 Bismillaahirrahmaannirrahiim..
 
“kapan ya saya bisa berdoa di dekat ka’bah”

“kalau sudah pernah pergi, pengen pergi lagi lihat ka’bah”

“saya mau dikirim ke mekkah pas musim haji, walapun jadi petugas bersih-bersih”

Demikianlah komentar orang-orang yang menunjukkan mereka sangat ingin dan cenderung hati mereka untuk melihat ka’bah dan menunaikan ibadah haji. Hal ini karena memang doa dari nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berdoa,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah mewajibkan haji ke Baitullah di mana Allah menempatkan anak keturuan nabi Ibrahim dan Allah menjadikannya suatu rahasia mengagumkan yang memikat di hati. Yaitu orang berhaji (ke Ka’bah) dan tidak ditunaikan terus menerus, namun setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke ka’bah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya“ (Taisir karimir rahman, hal. 427)

Fairuz Abadi rahimahullah membawakan tafsir Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, “(maka jadikanlah hati sebagian manusia), yaitu hati sebagian manusia, (cenderung kepada mereka) yaitu rindu dan menginginkan (pergi ke Ka’bah / Mekkah) setiap tahun” (Tanwirul Miqbas, hal. 214).

Dalam kitab At-tafsir Al-Muyassar, “(Nabi Ibrahim berkata) Wahai Rabb sesungguhnya saya melakukan ini karena perintah-Mu, agar mereka menunaikan shalat sesuai dengan tuntunan-Mu, jadikan hati sebagian mahkluk-Mu agar cenderung kepada ka’bah/Mekkah dan mencintainya” (At-tafsir Al-Muyassar, hal 260).



Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.Or.Id

Jumat, 05 Juli 2013

Doa Berbuka Puasa Yang Shahih


Bismillaahirrahmaanirrahiim

kilas balik ke masa kita baru mulai belajar menjalankan puasa Ramadhan, banyak dari kita yang juga diajarkan doa berbuka puasa oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah. Namun bagaimanakah Nabi Muhammad Rasulullah mengajarkan doa berbuka puasa? Apakah yang diajarkan pada kita dulu telah sesuai dengan hadits shahih atau hasan? Bukankah Rasulullah adalah sebaik-baiknya teladan bagi umat muslim.. berikut sedikit penjelasannya, semoga bermanfaat..

Sumber: Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat


HADITS PERTAMA
Artinya :
"Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul 'Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).
(Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu'jamul Kabir).
Sanad hadits ini sangat Lemah/Dhoif

Pertama :
Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin 'Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.
Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dho'if

Kedua
Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin 'Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.
Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani, dll.


HADITS KEDUA
Artinya :
"Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillah, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).
(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu'jam Shogir hal 189 dan Mu'jam Auwshath).
Sanad hadits ini Lemah/Dho'if

Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.

Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu'afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
Kata Imam Ibnu 'Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I'tidal 1/239).


HADITS KETIGA
Artinya :
"Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi SAW. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa 'Alaa Rizqika Aftartu."
(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)

Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit yakni
MURSAL
MAJHUL

Mu'adz bin Abi Zuhrah dikenal seorang rawi yang MURSAL dan MAJHUL.


HADITS KEEMPAT
Artinya :
"Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dzahabad Dzoma’u Wabtallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatal Ajru Insya Allah 

(artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).
(Hadits SHAHIH Riwayat abu daud, dalam shahih al jami')
(Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa'i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239) Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.



KESIMPULAN

Hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (dhoif) maka tidak boleh lagi diamalkan. Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah syah maka bolehlah kita amalkan




PS: Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan



Definisi mursal dan majhul dapat dilihat di http://jacksite.wordpress.com/2007/07/04/ilmu-hadits-definisi-hadits-mursal/ dan http://jacksite.wordpress.com/2007/07/04/ilmu-hadits-definisi-hadits-majhul-ketidaktahuan-akan-kondisi-perawi-jahalatur-raawi

Kamis, 27 Juni 2013

Berhati-hatilah! Istri dan Anak Dapat Menjerumuskan ke Neraka

Bismillaahirrahmaanirrahiim..


Suami adalah pemimpin dalam keluarganya. Sebagaimana layaknya seorang pemimpin, ia harus menjadi teladan yang baik dan dia memegang tanggung jawab penuh atas orang-orang yang dipimpinnya. Berhati-hatilah para ayah dan para suami karena istri Anda dan anak-anak Anda dapat menarik kaki Anda masuk ke dalam Neraka tempat siksa yang tak tertandingi.

Perlu di ingat bahwa dalam ajaran islam, Kewajiban suami sekaligus ayah bukan hanya mencari nafkah saja. Namun banyak kewajiban lainnya, salah satunya menjaga keluarganya dari api neraka. Hendaknya seorang suami sekaligus ayah mengajarkan persoalan-persoalan yang belum diketahui oleh istrinya dan anak-anaknya perihal agama. Atau belajar se-keluarga mendalami ajaran agama bersama-sama, dengan cara menghadiri kajian-kajian agama bersama-sama dan tentunya kajian yang sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist berdasarkan pemahaman yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Kebutuhan untuk memperbaiki kualitas agama sama pentingnya seperti memenuhi kebutuhan terhadap makanan serta pakaian sebab taruhannya adalah kehidupan akhirat Anda dan keluarga Anda.

Allah ta’ala berfirman,Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6)

Tidak cukup sekedar itu, kewajiban laki-laki dalam rumah tangganya tidak cukup sebatas mengajarkan ilmu agama saja, tapi suami sekaligus ayah juga harus mewajibkan kepada istrinya dan anak-anaknya untuk dapat melaksanakan semua ilmu agama yang sudah istri dan anak-anaknya ketahui. Suami harus mampu mengontrol dan mengawasi istri dan anak-anaknya agar tidak melakukan perbuatan maksiat dan syirik, sebab seorang suami sekaligus ayah adalah penanggung jawab bagi istri dan anak-anaknya di akhirat kelak. Seorang suami sekaligus ayah diperintahkan menjaga serta mengayomi keluarganya,
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.bersabdaSeorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan ia akan diminta pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya (HR. Muttafaq Alaih)



Tanggung jawab yang dipegang suami sekaligus ayah (laki-laki muslim), juga termasuk dengan bagaimana cara berpakaian istri dan anak-anaknya. Maka dari itulah ada ungkapan bahwa “Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka” dan ungkapan yang lainnya yaitu “Selangkah istri keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka”

Menutup aurat (berhijab) bukanlah budaya negara tertentu. Menutup aurat (berhijab) adalah kewajiban setiap wanita yang mengaku bertuhan satu yaitu Allah azza wa jalla. Menutup aurat (berhijab) bukan hanya wajib bagi istri dan anak perempuan nabi Muhammad, tetapi juga wajib bagi istri orang mukmin dan seluruh wanita-wanita beriman.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.. “ (QS al-Ahzab [33]: 59).

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya, janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS an-Nur [24]: 31)

Jangan biarkan diri Anda jatuh ke neraka lantaran perbuatan maksiat, kesyirikan dan ketidak patuhan istri dan anak-anak Anda tehadap perintah Allah tuhan yang tunggal sang penguasa semesta alam. Semoga kita termasuk golongan mukmin dan beriman… Aamiin yaa Rabb..


Minggu, 17 Maret 2013

Mereka Yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza wajalla. Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل: ما يستعمله? قال: يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

"Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal." Dikatakan, "Apakah dijadikan beramal itu?" Beliau bersabda, "Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya."
( HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq). [1]

2. Dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan disinkronkan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat. "(HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik). [2]

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عن أنس أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عاد رجلا من المسلمين قد خفت فصار مثل الفرخ فقال له رسول الله - صلى الله عليه وسلم - «هل كنت تدعو بشىء أو تسأله إياه». قال نعم كنت أقول اللهم ما كنت معاقبى به فى الآخرة فعجله لى فى الدنيا. فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - «سبحان الله لا تطيقه - أو لا تستطيعه - أفلا قلت اللهم آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار». قال فدعا الله له فشفاه.

"Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apakah kamu berdo'a dengan sesuatu atau kamu memintanya?" Ia berkata, "Ya, aku berdoa," Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia. "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, "Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab neraka." Maka orang itupun berdo'a dengannya. Allah pun menyembuhkannya. "(HR Muslim).

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

"Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah." (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات

"Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan." (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يزال البلاء بالمؤمن أو المؤمنة في جسده وفي ماله وفي ولده حتى يلقى الله وما عليه من خطيئة

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Senantiasa tes itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa." (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

"Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama." HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur'an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur'an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur'an:

يخرج قوم من أمتى يقرءون القرآن ليس قراءتكم إلى قراءتهم بشىء ولا صلاتكم إلى صلاتهم بشىء ولا صيامكم إلى صيامهم بشىء يقرءون القرآن يحسبون أنه لهم وهو عليهم

"Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur'an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur'an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an dan menyangka bahwa Al Qur'an mendukung mereka padahal Al Qur'an tidak mendukung mereka. "(HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur'an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur'am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

"Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran." (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وما يلقاها إلا الذين صبروا وما يلقاها إلا ذو حظ عظيم

"Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikan kecuali orang yang memiliki keberuntungan yang besar." (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.
--------------
[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami 'no 304.

[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami 'no 308.

http://cintasunnah.com/mereka-yang-diinginkan-kebaikan-oleh-allah/

Sahabat Yang Baik

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mari kita cari tau siapakah diantara sahabat kita yang benar-benar seorang sahabat yang baik...
Dahulu orang bijak berpetuah:

صديقك من صدقك لا من صدقك

Kawanmu yang sejati adalah yang senantiasa jujur bukan yang senantiasa membenarkan atau membelamu.

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

Bahu membahulah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan dan jangan sekali-kali kali bahu membahu dalam hal dosa dan perbuatan melampaui batas.

Tanggung Jawab Kedua Orang Tua Serta Para Pengajar

Bismillaahiirrahmaanirrahiim

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

Seorang ibu, ayah, serta pengajar, akan ditanya di hadapan Allah tentang pendidikan generasi ini. Apabila mereka baik dalam mendidik, maka generasi ini akan bahagia dan begitu pula mereka juga akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, apabila mereka mengabaikan pendidikan generasi ini, maka generasi ini akan celaka, dan dosanya akan ditanggung oleh pundak-pundak mereka. Oleh karena itu dikatakan dalam sebuah hadits,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan pemimpin akan ditanyai tentang kepemimpinannya” (Muttafaqun ‘alaihi).

Berita gembira bagimu wahai para pengajar, dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,

فَوَاللهِ لَيَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ خُمْرِ النَّعَمَ

“Demi Allah, jika Allah menunjuki seseorang lewatmu, ini lebih baik daripada unta-unta merah”

Berita gembira bagi kalian berdua wahai ayah dan ibu, dengan sebuah hadits yang shahih:

اِذَ مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka amalannya terputus kecuali tiga perkara. Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat serta anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Wahai para pengajar, hendaknya engkau memperbaiki dirimu terlebih dahulu. Kebaikan menurut anak-anak adalah apa-apa yang engkau lakukan. Sebaliknya, keburukan menurut mereka adalah apa-apa yang engkau tinggalkan. Baiknya perilaku pengajar dan kedua orang tua di hadapan anak-anak merupakan sebaik –baiknya pendidikan bagi mereka.

-Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah-

Radio Muslim Jogja

Menyelisihi Ajaran Agama, Terancam Mendapat Adzab

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya dan sunnah Nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Allah itu takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih”
(QS. An Nuur: 63)

Ketika Imam Malik ditanya tentang orang yang merasa bahwa ber-ihram sebelum miqat itu lebih bagus, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah mensyari’atkan bahwa ihram dimulai dari miqat, maka Imam Malik pun berkata: “Ini menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, dan aku khawatir orang itu akan tertimpa fitnah di dunia dan adzab yang pedih sebagaimana dalam ayat.. (beliau menyebutkan ayat di atas)” (Al I’tisham, 174).

Menjelaskan perkataan Imam Malik ini, Asy Syathibi berkata:

“Fitnah yang dimaksud Imam Malik dalam menafsirkan ayat ini berhubungan dengan kebiasaan dan kaidah ahlul bid’ah, yaitu karena mengedepankan akal, mereka tidak menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah sebagai petunjuk bagi mereka”
(Al I’tisham, 174).

* Renungan Al-Qur'an

Orang Miskin Di Dunia, Siapakah Dia?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Siapakah orang miskin di dunia ini?

Sebagian orang yang 'Arif mengatakan, "Orang miskin di dunia adalah yang keluar dari dunia sementara mereka belum merasakan kenikmatan di dunia yang paling nikmat".

Ditanya, "Apakah kenikmatan di dunia yang paling nikmat itu?"
Ia menjawab, "yaitu mencintai Allah .. .merasa indah berduaan denganNya ... rindu untuk bertemu denganNya .. .Dan merasakan kenikmatan ketika berdzikir dan mentaatinya .."




(Ighotsatulahafan karya Ibnu Qayyim hal. 79 tahqiq Majdi Fathi Sayyid)

*Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Perselisihan (Beda Pendapat) Yang Boleh Dan Yang Dilarang

Bismillaahirrahmaanirrahiim


Berselisih dalam masalah agama, namun masing-masing mengikuti pendapat yang berdasarkan dalil shahih serta cara berdalil yang benar, tidak keluar dari pemahaman para sahabat, tabi'in dan ulama yang mengikuti mereka. Maka ini perselisihan yang dibolehkan.

Adapun, berselisih dalam masalah agama, tapi mengikuti pendapat sekedar karena sesuai dengan nafsu dan selera, tidak mengindahkan dalil dan cara berdalil yang benar, ini adalah perselisihan yang dilarang. Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Al Imran: 105)

Ash Shabuni berkata: “Maksud ayat ini adalah, janganlah berlaku seperti orang Yahudi dan Nasrani yang mereka berpecah-belah dalam masalah agama karena mengikuti hawa nafsu mereka padahal ayat-ayat yang datang kepada mereka sudah sangat jelas” (Shafwatut Tafasir, 202).

* Renungan Al-Qur'an

http://www.facebook.com/pages/httpmuslimahorid/215781025194?ref=stream

Wahhabiyah Sesungguhnya

Bismillaahirrahmaanirrahiim


WAHHABIYAH adalah sebuah sekte yang lahir di AFRIKA UTARA pada abad ke-2 H, melalui tangan Abdul WAHHAB bin Rustum. Nama Wahhabiyah, adalah nisbat kepada Abdul Wahhab bin Rustum ini.

Merupakan pecahan dari sekte Wahbiyah Ibadhiyah yang berpemahaman Khawarij, nisbat kepada pendiri awalnya yaitu Abdullah bin WAHB Ar-Rasibi.

Khawarij, yang cikal bakalnya adalah Dzul Khuwaishirah, sehingga Ibnul Jauzi menyatakan:

“Dzul Khuwaishirah adalah khawarij pertama yang keluar dalam Islam. Penyakitnya adalah RIDHA DENGAN PEMIKIRAN (PENDAPAT) PRIBADINYA. Seandainya ia diam pasti akan tahu bahwa tidak ada pemikiran (pendapat) yang benar yang menyelisihi pendapat Rasulullah. Pengikut orang inilah yang memerangi Ali bin Abu Thalib.” (Talbis Iblis, Ibnul Jauzi)

Yang kemudian berkembang dan memulai gerakannya dengan memberontak terhadap kekhilafahan Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu dan berhasil membunuh beliau. Kemudian kelompok khawarij ini menjadi satu kelompok resmi pada tanggal 10 Syawal tahun 37 H dengan membai’at Abdullah bin WAHB Ar-Rasibi sebagai pemimpin mereka. [Al Mausu’ah Al Muyassarah Fil Adyaan Wal Madzaahib Wal Ahzaab Al Mu’asharah (1/53)]

Kemudian Ali bin Abi Thalib radhiyallah’anhu memerangi mereka di daerah Nahrawan hingga tersisa sedikit dari mereka, dan (sisanya) melarikan diri kebeberapa daerah. Tentang hal ini Al-Baghdadi rahimahullah menceritakan:

“Terbunuh orang-orang khawarij pada hari itu hingga hanya tersisa sembilan orang. Dua orang dari mereka lari ke daerah Sajistan dan dari pengikut keduanya muncul Khawarij Sajistan, dua orang lagi lari ke Yaman dan dari pengikutnya muncul sekte Ibadhiyah di Yaman. Dua orang lainnya lari ke Oman dan muncul dari pengikutnya Khawarij Oman dan dua yang lainnya lari kedaerah Al Jazirah dan muncul dari pengikutnya Khawarij Al Jazirah. Tinggal seorang lari ke daerah Tel Muzan.” (Al Farqu Bainal Firaq Al Baghdadi, hal 80-81, lihat Al Khawarij, Tarikhuhum Wa Araauhum Al I’tiqadiyah Wa Mauqif Al Islam Minha, DR. Ghalib bin ‘Ali ‘Awaji, hal 95).

Wahhabiyah sudah ada sejak abad ke-2 H, sementara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dilahirkan pada tahun 1115 H/1703 M.

Jadi, SALAH KAPRAH kalau ada yang mengatakan bahwa Wahhabiyah adalah sekte baru yang didirikan di Najed oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.




Abu Muhammad Herman

http://www.facebook.com/pages/httpmuslimahorid/215781025194?ref=stream

Sabtu, 16 Februari 2013

7 Golongan Yang Dinaungi Di Padang Mahsyar

Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits
"Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari dimana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata : sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya" (HR Bukhari Muslim).

Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda "Sesungguhnya sebaik-baik sholat yang dilakukan oleh seseorang adalah sholat yang dilakukan di rumahnya kecuali sholat wajib" (HR Bukhari Muslim)

Kamis, 29 November 2012

Hukum Uang Muka / DP / Persekot / Panjar

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Ada suatu pembahasan dalam kitabul buyu’ (jual beli) mengenai masalah bai’ ‘urbun. ‘Urbun adalah seseorang membeli sesuatu dengan memberi uang muka (persekot) dan dibuat perjanjian, yaitu jika jual belinya jadi, maka tinggal membayar yang sisa. Jika tidak jadi, maka menjadi milik si penjual. Inilah yang biasa istilahkan dengan uang muka, persekot, DP atau panjar. Mengenai hukum uang muka tersebut, kami akan sajikan secara sederhana berikut ini.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual-beli ‘urbun” (HR. Malik, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Penilaian Hadits
Hadits ini adalah hadits yang dho’if / lemah.
Ibnu Hajar Al Asqolani dalam At Talkhish Al Habir (3: 968) mengatakan bahwa dalam rowinya ada perowi yang tidak disebutkan. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, namun dho’if.
Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (9: 334) mengatakan bahwa hadits ini dho’if.
Syaikh Ahmad Syakir dalam takhrij terhadap musnad Ahmad mengatakan bahwa hadits ini dho’if.
Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih (2864) mengatakan bahwa hadits ini dho’if.

Perselisihan Para Ulama
Mengenai jual beli ‘urbun ini para ulama berselisih pendapat.
Pendapat pertama mengatakan bahwa jual beli urbun itu haram. Karena di dalamnya dianggap terdapat ghoror dan jahalah, yaitu ketidakjelasan, jual beli bisa terjadi atau pun tidak. Dari sisi ini terlarang. Dalil yang jadi pegangan adalah hadits yang dikemukakan di atas. Namun yang tepat, hadits tersebut adalah hadits dho’if, sehingga tidak bisa dijadikan dalil pendukung untuk melarang uang muka atau persekot.
Pendapat kedua mengatakan bahwa jual beli urbun itu sah dan boleh-boleh saja. Inilah pendapat ‘Umar, Ibnu ‘Umar dan Imam Ahmad. Mereka menganggap bahwa ketidakjelasan yang ada bukanlah kejelasan yang  membuat cacat transaksi. Alasan lain, pembeli jika ia memberi syarat khiyar untuk dirinya (memutuskan jadi atau tidaknya membeli) selama sehari atau dua hari, itu boleh. Maka, jual beli ‘urbun ketika disyaratkan oleh penjual, itu pun boleh.
Jika si pembeli misalnya mengembalikan barang setelah ia coba dahulu (dan ini dengan kesepakatan), bisa jadi harga barang tersebut jatuh, apalagi jika pembeli lain tahu. Maka si pembeli berinisiatif menutupi kekurangan tersebut dengan memberi sejumlah uang. Hal ini dibolehkan.
Intinya, dengan uang muka terdapat maslahat bagi si penjual dan pembeli. Pembeli dapat manfaat karena ia masih punya kesempatan untuk menimbang-nimbang pembelian barang tersebut jika ia pakai uang muka. Jika ia pakai uang muka, maka akad tersebut masih bisa ditimbang-timbang. Jika pembeli melunasi langsung, ia tidak bisa batalkan. Maka yang datang cuma penyesalan jika ia akhirnya tidak menyukai barang tersebut. Penjual pun mendapatkan keuntungan. Jika tidak terjadi kesepakatan, uang muka jadi miliknya untuk menutupi kekurangannya, juga untuk menahan pembeli agar tidak pergi begitu saja.
Pendapat terkuat dalam masalah ini, jual beli urbun atau uang muka, dibolehkan karena terdapat maslahat bagi penjual dan pembeli, serta bukan termasuk jahalah dalam jual beli. Dan besarnya uang muka di sini tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Demikian kesimpulan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah. Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, 9: 181-183.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata, “Tidak mengapa memanfaatkan uang muka. Demikian pendapat yang tepat dari pendapat ulama yang ada jika telah ada kesepakatan antara penjual dan pembeli dalam hal itu ketika jual beli tidak terjadi.” (Fatawa lit Tijaar wal A’maal, hal. 49).
Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia juga membolehkan jual beli urbun. Mereka katakan bahwa ada amalan ‘Umar bin Khottob dalam hal ini. Imam Ahmad juga mengatakan tidak mengapa. Ibnu ‘Umar pun membolehkannya. Sa’id bin Al Musayyib juga berpendapat bolehnya. Ibnu Siirin mengatakan bahwa tidak mengapa jika pembeli tidak suka pada barang lalu ia mengembalikannya dan ia memberikan ganti rugi. Adapun hadits yang melarang jual beli urbun adalah hadits dho’if. Hadits tersebut didhoifkan oleh Imam Ahmad dan lainnya sehingga tidak bisa dijadikan dalil pendukung. Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 13: 133.
Demikian, semoga jadi ilmu yang bermanfaat. Wallahul muwaffiq.

Referensi:
Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, 1433 H.
Islamqa.com fatwa no. 12580.
Dorar.net dan Maktabah Syamilah untuk takhrij hadits.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, selepas shalat Shubuh, 14 Muharram 1434 H
www.rumaysho.com

Orang-Orang Yang Didoakan Malaikat


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Insya Allah berikut inilah orang - orang yang
didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam
keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam
pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya
Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang
diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia
berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah
sayangilah ia'" (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih
Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di
dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang
berada pada shaf - shaf terdepan" (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah)
dari Barra' bin 'Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat
berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam
shaf).
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para
malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang
menyambung shaf - shaf" (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits
ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang
Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca
'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka
ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka
ia akan diampuni dosanya yang masa lalu". (Imam Bukhari meriwayatkan
dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah
melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu
bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara
kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya,
(para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan
sayangilah ia'" (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad
no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan
'ashar secara berjama'ah.
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada
saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai
hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari
hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada
siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul
lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang
ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik
(ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada
malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada
mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?',
mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang
melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan
mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka
pada hari kiamat'" (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al
Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan
orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk
saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang
yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada
kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil
baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya
dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata
'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia
dapatkan'" (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., Shahih
Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana
pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2
malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang
berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah,
hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Imam Bukhari dan Imam Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih
Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang -
orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk disaat sahur untuk
puasa "sunnah" (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan
dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahih At Targhiib wat
Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin
menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus
70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat
kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di
waktu malam kapan saja hingga shubuh"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra.,
Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,
"Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada
orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas
seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang
yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya
penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam
lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada
orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain"
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al
Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sumber Tulisan Oleh :
Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang -orang yang Didoakan
Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir,
Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Dari Abu Hasna

Sabtu, 17 November 2012

Meja Kayu (Berbakti Pada Orang Tua)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  14 November 2012 saya mencari jejak seorang pembelajar dan saya menemukan sebuah cerita, saya ingin berbagi pada kalian semua yang ikut
membacanya... Semoga menjadi renungan untuk kita bersama, baik bagi yang belum pernah membaca maupun yang sudah pernah membacanya...


"MEJA KAYU"

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan.

Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

***

 Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orang tua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi untuk masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita di dunia dan akhirat.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak". (An Nisa’ : 36).

 Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga".
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan

Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : "Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua"
(Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516)