“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)
Photobucket"
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat-kan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian dengan sekuat-kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

"Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, maka Dia (Allah) akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “Do’a seorang muslim untuk saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat yang bertugas (mengaminkan do'anya untuk saudaranya). Setiap kali dia mendo'akan kebaikan untuk saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, dan engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” [HR. Muslim]

TRANSLATE THIS PAGE INTO YOUR LANGUAGE

Minggu, 03 April 2011

"SIFAT WARA" Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
Bismillaahirrohmaanirrohiim …

Pengertian Wara dan Hakikatnya dalam Syari'at

Wara secara etimologi (bahasa)bermakna 'menahan' dan 'tergenggam'.

Ibnu Faris berkata:

"Wara bermakna juga menjaga diri yaitu: menahan diri dari hal-hal yang tidak selayaknya…


Ibu Manzhur berkata:

الوَرَع (wara) artinya: merasa risih (jawa=pekewuh).

Dan الوَرِع (dengan mengkasrohkan huruf ro') artinya orang yang khawatir lagi melindungi diri serta merasa risih.

Asal arti kata wara adalah: menahan diri dari yang diharamkan dan merasa risih dengannya. Kemudian dipinjam untuk istilah menahan diri dari hal mubah (yang dibolehkan) dan halal.

Dalam mengartikan makna wara ini ulama berbeda dalam pengungkapannya dengan banyak ungkapan. Beda ungkapan tetapi sepakat dalam makna. Saya nukilkan beberapa di antaranya -dengan taufik Allah-:

Ibnu Umar berkata:

"Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat ketakwaan sampai ia meninggalkan apa yang meragukan hatinya.

Dengan makna yang serupa diungkapkan oleh sebagian salaf:

"Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat ketakwaan hingga meninggalkan apa yang tidak memudaratkan demi kehati-hatian dari perkara yang mengandung kemudaratkan."

Ibrohim bin Adham berkata:

"Wara adalah meninggalkan setiap perkara samar. Dan meninggalkan apa yang bukan urusanmu adalah meninggalkan hal yang berlebihan.

Dikatakan pula:

"Wara artinya keluar dari syahwat (hawa nafsu) dan meninggalkan kejelekan-kejelekan."


Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- berkata[1]:

"Adapun wara, maknanya: Menahan diri dari apa-apa yang akan memudaratkan, termasuk di dalamnya perkara-perkara haram dan samar, karena semuanya itu dapat memudaratkan. Sungguh siapa yang menghindari perkara samar telah menyelamatkan kehormatan dan agamanya. Siapa yang terjerumus pada perkara samar, terjerumus dalam perkara haram, sebagaimana pengembala yang mengembala di sekitar pagar, tidak ayal akan masuk kedalamnya."

Tidak diragukan bahwa seseorang dikatakan bersifat wara atau takwa karena didapati adanya aksi penolakan dan menahan diri dari apa yang dilarang (bukan karena ketidakadaan apa yang dilarang).

Kesimpulan uraian: selama tidak ada perkara yang terlarang, tidak akan ada pula perkara yang memudaratkan, baik berbentuk celaan, hukuman dan yang sepertinya.

Adanya aksi penolakan, proteksi diri dan menghindar dari perkara telarang berarti telah melakukan aksi ke-saleh-an, ketaatan dan takwa, yang membuahkan manfaat, baik berbentuk pujian, pahala dan yang sepertinya. Jadi, adanya mudarat berbanding lurus dengan adanya kejelekan. Dan adanya manfaat berbanding lurus dengan adanya hasanat (kebaikan-kebaikan)

Untuk sesuatu yang sudah jelas kehalalannya, meninggalkannya bukanlah termasuk wara. Dan apapun yang sudah jelas keharamannya mengerjakannya bukanlah wara.

Ibnu al-Qoyyim -semoga Allah merahmatinya- berkata:

"Nabi telah merangkum pengertian wara dalam satu kalimat:

)) مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ ((

"Dari baiknya keislaman seseorang itu adalah meninggalkan apa yang bukan urusannya (dikuasainya)." [2]

Mencakup 'meninggalkan apa-apa yang bukan urusannya': baik berupa pembicaraan, pandangan, pendengaran, jamahan, langkah, fikiran dan segala aktifitas lahir maupun batin. Kalimat Nabi di atas gamblang dan simpel memberikan pengertian sifat wara." [3]

Syaikh Muhammad bin Soleh al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya- berkata:

"Wara adalah meninggalkan apa yang memudaratkan. Di antaranya meninggalkan perkara yang samar hukum dan hakikatnya.

Pertama: samar hukumnya

Kedua: samar keadaannya

Orang yang wara adalah: dia yang jika mendapati perkara samar, meninggalkannya, sekalipun dari sisi hukum keharamannya masih diperselisihkan. Sedangkan jika samar dalam wajibnya suatu perkara, dia mengerjakannya, agar tidak berdosa jika meninggalkannya. [4]

dalil-Dalil Al-Qur'an dan Sunnah Atas Pensyari'atan Wara

Ibnu al-Qoyyim -semoga Allah merahmatinya- berkata [5]:

"Allah berfirman:

"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS.al-Mu'minun: 51)

Dan firman-Nya:
"Dan pakaianmu bersihkanlah" (QS.al-Mudatsir: 4)

Qotadah dan Mujahid (ulama tabi'in) menafsirkan:

"Bersihkanlah jiwamu dari dosa. Jiwa diibaratkan dengan pakaian."

Demikian pula penafsiran Ibrahim an-Nakha'i, ad-Dohhak, as-Sya'bi, as-Zuhri dan peneliti dari para ahli tafsir.

Ibnu Abbas menafsirkan:

"Janganlah engkau mengenakannya untuk maksiat ataupun khianat."

Ubay bin Ka'ab menafsirkan:

"Janganlah engkau mengenakannya untuk khianat, kezaliman dan dosa. Tetapi kenakanlah sementara engkau dalam keadaan berbakti dan suci.

Ad-Dohhak menafsirkan:"Perbaikilah amalmu!"

Said bin Jubair menafsirkan:"Bersihkan hati dan tempat tinggalmu!"

Al-Hasan dan al-Qurazi menafsirkan:"Perbaikilah moralmu!"

Ibnu Sirin dan Ibnu Zaid menafsrikan:

"(Ayat tersebut adalah) perintah membersihkan pakaian dari najis yang shalat jadi tidak sah karena keberadaannya. Sebab orang-orang musyrik dulu tidak menjaga kesucian badan dan pakaian mereka."

Towus (ulama Tabi'in) menafsrikan:

"Pendekkanlah pakaianmu, kerena memendekkan pakaian adalah (menjaga) kesuciannya."

Penafsiran yang pertama adalah tafsir yang paling tepat. Tentu saja membersihkan pakaian dari najis dan memendekannya merupakan upaya (menjaga) kesucian yang memang diperintahkan dalam menyempurnakan amal dan akhlak (moral), karena najis lahiriah akan mewariskan najis batiniah. Oleh karena itu orang yang menghadap Allah diperintahkan untuk membersihkan dan menjauhi najis.

Maksud dari pemaparan di atas adalah: bahwa sifat wara dapat membersihkan kotoran hati sebagaimana air yang membersihkan pakaian dari kotoran dan najis-najis yang ada padanya. Ada relasi antara pakaian dan hati, baik lahir maupun batin. Karena itu, pakaian yang terlihat dalam mimpi (tafsirannya) menggambarkan hati dan keadaan orang tersebut. Keduanya saling mempengaruhi. Itulah sebabnya dilarang mengenakan sutra, emas dan kulit siba' (binatang buas) karena akan mempengaruhi hati dari style penghambaan dan ketundukan. Pengaruh hati dan jiwa pada pakaian adalah perkara yang tidak kasat, yang hanya diketahui oleh pemilik bashiroh (firasat), yang dapat dilihat dari nilai kebersihan, kotor, dan baunya. Sampai-sampai pakaian orang yang taat dapat dibedakan dengan pakain pelaku dosa, tanpa disadari oleh yang mengenakannya."


Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata [6]:

"Asal sifat wara adalah dalam perkara yang samar. Sabda Nabi:

(( الحَلاَلُ بَيِّنٌ, وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ, وَبَيْنَ ذَلِكَ أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتِ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ, فَمَنْ تَرَكَ الشُّبْهَاتِ اسِتَبْرَأَ عِرْضُهُ وَ دِيْنُهُ, وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبْهَاتِ وَقَعَ فِي الحْرَاَمِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يْوْشِكُ أَنْ يُوْاقِعَهُ ))

"Perkara halal itu jelas dan perkara haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara samar yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Siapa yang meninggalkan perkara samar, berarti telah menyelamatkan kehormatan dan agamanya. Dan siapa yang terjerumus kepada perkara samar berarti terjerumus kepada perkara haram; sebagaimana pengembala yang mengembalakan gembalaannya di sekitar pagar, tidak ayal akan masuk ke dalamnya."

(Hadits ini terdapat di dalam Sohihain)

Di dalam kitab Sunan sabdanya Rasulullah:

(( دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلىَ مَا لاَ يَرِيْبُكَ ))

"Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukan."

Sabda beliau yang lain:

(( البِرُّ مَا اطْمَأَنَتْ بِهِ نَفْسُ وَسَكَنَ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ))

"Kebaktian (kebaikan) adalah apa yang jiwa tentram padanya dan hati tenang."

Sabda beliau yang lain dengan teks berbeda dalam Sahih Muslim :

(( البِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ, وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فيِ نَفْسِكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ ))

"Yang dimaksud perbuatan birr (terpuji) adalah moral yang baik. Adapun dosa adalah apa yang meragukan dirimu sekalipun orang-orang mendukungmu."

(Hadits-hadits di atas terdapat dalam Hadits Arbain Nawawiah, silahkan melihat uraiannya pada penjelasan kitab agung tersebut)

Rasulullah melihat sebutir kurma di tempat tidurnya. Beliau berkata:

(( لَوْ لاَ أَنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ مِنْ تمَرْاِلصَّدَقَةِ َلأَكَلْتُهَا ))

"Seandainya aku tidak khawatir ia berasal dari kurma sedekah, niscaya aku memakannya."

-Sampai disini penjelasan Ibnu Taimiyah-


Dalam hadits lain Nabi bersabda:

(( فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ, وَخَيْرُ دِيْنِكُمْ الوَرَعُ ))

"Keutamaan ilmu lebih baik dibandingkan keutamaan ibadah. Dan kebaikan agamamu adalah wara." [7]


Sesunguhnya wara memiliki penerapan yang beraneka macam. Berbeda antara satu dengan yang lain, sesuai dengan anggota tubuh yang digunakan dalam interaksi duniawi dan sosial, seiring keinginan-keinginan yang saling berbenturan dan berbeda kemaslahatan.

Perbedaan Antara Zuhud dan Wara

Syaikh al-Islam Ibnu Taymiah -rahimahullah - berkata[8] :

Aku telah menulis hadits-hadits yang merinci persamaan antara zuhud dan wara. Bahwa zuhud adalah: meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat. Bisa karena memang perkara itu tidak ada manfaatnya sama sekali, sisi kemanfaatnya lemah sementara ada perkara lain yang lebih bermanfaat atau terkandung efek buruk yang lebih besar dari manfaatnya.

Jika kemanfaatannya utuh, maka zuhud pada perkara itu adalah kedunguan.

Adapun pengertian wara adalah: menahan diri dari perkara yang mungkin dapat memberikan mudarat. Termasuk juga perkara haram serta samar, karena keduanya dapat memberi efek buruk. Siapa yang menjauhi perkara samar maka dia telah menyelamatkan kehormatan dan agamanya, dan siapa yang terjerumus ke dalam perkara samar berarti telah terjerumus ke dalam perkara haram, sebagaimana pengembala yang mengembalakan gembalaanya di sekitar pagar, tak ayal akan masuk ke dalamnya.

Singkatnya:

Zuhud merupakan ketidakadaan harap dan keinginan terhadap objek zuhud.

Wara merupakan bentuk penghindaran dan ketidaksukaan terhadap objek wara.

Jika ada sesuatu yang tidak ada manfaat atau mudaratnya, atau kemanfaatan serta efek buruknya seimbang dari setiap sisinya, maka perkara itu tidak layak untuk diharap atau dibenci, yang layak adalah zuhud, bukan wara.

Sehingga jelaslah bahwa apa yang layak di-wara-i layak pula di-zuhud-i, tetapi tidak sebaliknya.

Sesuatu yang dibenci atau dihindari layak untuk tidak diingini atau diharap. Ketidakadaan keinginan lebih utama dari adanya kebencian. Adanya kebencian melazimkan tidak adanya keingianan, tetapi tidak sebaliknya. Tidak setiap yang tidak diingini layak untuk dibenci. Bahkan terkadang ada perkara yang tidak layak diharap, dibenci, disukai, dimurkai, diperintahkan atau dilarang pada waktu bersamaan.

Dengan ini menjadi jelas bahwa:

Perkara yang wajib atau mustahabaat (disukai) tidak layak untuk di-zuhud-i dan tidak pula di-wara-i. Sedangkan makruhaat (perkara yang dibenci) layak untuk di-wara-i dan di-zuhud-i.

Untuk mubahaat (perkara yang boleh) yang layak adalah di-zuhud-i bukan di-wara-i. Yang demikian ini jelas, dapat diketahui dengan sedikit perenungan.



TELADAN SALAFUSOLEH DALAM WARA DAN JAUHNYA MEREKA DARI PERKARA HARAM DAN SAMAR

Ketahuilah –semoga Allah memberikan berkah kepada anda- bahwa salafussoleh -semoga Allah merahmati mereka- dahulu mendidik diri, keluarga dan lingkungan mereka untuk bersifat dengan akhlak yang mulia ini.

Penghulu orang-orang orang wara dan pendidik, Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika melihat al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib, putra dari putrinya, Fatimah, mengambil kurma sedekah dan memasukkan ke mulutnya, berkata kepadanya:

"Kihhk, kihhk!" Perintah untuk memuntahkannya.

Kemudian berkata:

"Apakah engkau tidak sadar bahwa kita tidak memakan sedekah."[9]

Al-Hasan al-Bashri -semoga Allah merahmatinya- berkata:

"Aku menemui kaum yang ketika diajak kepada perkara halal mereka majhuduun (menghindari)[10] dan meninggalkannya, seraya berkata:

"Kami khawatir dapat merusak kami. Sampai mereka menemui ajal mereka disebabkan kehati-hatian.


Darinya pula:

"Aku temui kaum yang mereka itu terhadap apa yang Allah halalkan atas mereka lebih zuhud (lebih menghindari) dari apa yang diharamkan atas kalian.[11]


Ad-Dhohak berkata:

"Aku telah temui manusia yang mereka itu mempelajari wara, sedangkan sekarang orang-orang belajar ilmu kalam."

Darinya pula:

"Aku telah melihat apa yang dipelajari oleh sebagian kami kepada sebagian yang lain kecuali wara."[12]

Muhammad Ibnu Sirin berkata:

"Diantara pesan yang dikatakan kepada orang yang akan pergi berniaga:

"Bertakwalah engkau kepada Allah dan ambillah apa yang telah Allah takdirkan kepadamu dari yang halal, karena jika engkau meraihnya dari selain itu, engkau tidak akan mendapatkan lebih dari apa yang telah Allah takdirkan."[13]


Abu Ismail al-Muadib berkata:

"Seseorang datang kepada al-Amri dan berkata:

"Nasehati aku!"

Al-Amri berkata seraya mengambil kerikil :

"Bila wara seberat kerikil ini masuk ke dalam hatimu itu lebih baik bagimu dari shalat penduduk bumi."


Hammad bin Zaid berkata:

"Ketika aku bersama Ayahku, aku mengambil secuil pecahan batako dari tembok. Diapun berkata:

"Kenapa kamu ambil?"

"Ini hanya secuil tembok" Jawabku.

Beliau berkata:

"Jika setiap orang mengambil secuil demi secuil, apakah akan tersisa tembok pada diding ini; atau ungkapan serupa itu."[14]

Jika demikian keadaan mereka, maka tidak disangsikan jika kita dapati perjalan hidup mereka dipenuhi semerbak tetesan wewangian dalam gambaran menarik pada kewaraan dan jauhnya mereka dari perkara samar.


Mari lebih jauh masuk menyelaminya.

Kita akan memulai dengan gambaran wara dari penghulu orang-orang wara, Muhammad Rasulullah, yang merupakan suri teladan umat. Allah berfirman:

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.." (QS.al-Ahzab: 21)

Kemudian melanjutkannya dengan menyebutkan kewaraan Khulafaurashidin dan imam orang-orang yang mendapat petunjuk (sahabat), lalu wara dari kalangan para Tabi'in dan yang setelahnya dari generasi salaf (awal) ummat ini[15] tanpa berpanjang lebar karena itu merupakan sesuatu yang sulit dan akan menjadi berlarut-larut[16] pembahasan tulisan ini. Saya mulai dengan meminta pertolongan kepada Allah:

Imam orang-orang wara, Nabi Muhammad Rasulullah.

Anas berkata: "Ketika Nabi melintasi suatu jalan Ia melihat kurma. Beliaupun berkata:

(( لَوْ لاَ أَنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ مِنْ الصَّدَقَةِ َلأَكَلْتُهَا ))

"Sekiranya aku tidak khawatir ia berasal dari sedekah niscaya aku memakannya."[17]

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata:

(( ِنِّي َلأَنْقَلِبُ إِلىَ أَهْلِي فَأَجِدُ التَّمْرَةَ ساَقِطَةٌ عَلَى فِرَاشِي فَأَرْفَعُهَا ِلآكُلُهَا ثُمَّ أَخْشَى أَنْ تَكُوْنَ مِنْ الصَّدَقَة فَأَلْقِيهَا ))

"Ketika aku berbaring di rumahku, aku dapati sebutir kurma jatuh dari tempat tidur. Akupun mengambilnya untuk memakannya. Tapi karena khawatir ia (kurma itu) berasal dari sedekah, maka akupun mengurungkannya."[18]

Dari Amr bin Syu'aib, dari Ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah (ketika terjaga) dari tidur mendapatkan kurma disampingnya. Beliaupun mengambil dan memakannya. Tetapi kemudian di akhir malam beliau mengerang sehingga membuat istri beliau terkejut. Beliau berkata:

(( إِنِّي وَجَدْتُ تَمْرَةً تَحْتَ جَنْبِي, فَأَكَلْتُهَا فَخَشِيْتُ أَنْ تَكُوْنَ مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ ))


"Aku menemukan kurma disampingku dan memakannya. Aku khawatir ia merupakan kurma sedekah."[19]



Abu Bakar as-Siddiik:
Orang terbaik umat ini, pengganti Rasulullah dan yang menemani Nabi di goa, sahabat karib Nabi, mentrinya yang setia, Abdullah bin Abu Kuhafah Utsman al-Qurasy at-Tamimy[20].

Aisyah berkata:

"Abu bakar memiliki seorang budak yang bertugas mengumpulkan keuntungan dari usaha-usaha bagi hasilnya. Dari hasil itulah Abu Bakar makan. Pada suatu kali budak itu datang membawa makanan dan Abu Bakar pun memakannya. Berkatalah budak itu kepada Abu Bakar:
"Tahukah engkau apa yang sedang engkau makan itu?"
"Apa ini?" Tanya Abu Bakar.
"Ketika di masa jahiliah dahulu aku menjadi paranormal untuk seseorang, padahal aku tidak mengerti perdukunan, selain membodohinya. Diapun memberiku imbalan. Yang sedang engkau makan adalah termasuk hasil darinya (imbalan tersebut)"
Segera Abu Bakar memasukkan jarinya ke dalam mulutnya dan memuntahkan segala yang telah masuk perutnya."[21]


Dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, bahwa Umar bin al-Khathab mendatangi Abu Bakar dan didapati sedang merenggut lidahnya. Umarpun berkata kepadanya:
"Hah, semoga Allah mengampunimu."
Abu Bakarpun berkata: "Sesungguhnya lidah ini mengajak kepada kebinasaan."[22]



Umar Ibnu al-Khathab

Dia berkun-yah[23] Abu Hafs al-'Adawy. Gelarnya al-Faaruq, menteri Rasulullah yang menguatkan Islam dan menaklukkan negeri-negeri. Dia juga digelari as-Soodiq (yang jujur). Perkataannya mengandung ilham. Yang dikatakan oleh Nabi:

(( لَوْ كَانَ بَعْدِيْ نَبِي لَكَانَ عُمَرُ ))

"Seandainya setelahku ada nabi, Umar orangnya."
Setan lari menghindar darinya. Dan dia adalah orang yang tinggi keimanannya.


Syair arab mengatakan:

Siapa yang menyaingi Abu Hafs (Umar) dan perjalan hidupnya

Atau siapa yang berusaha menyerupainya

Ketika istrinya meminta gula-gula, dia berkata

Dari mana aku mendapatkan uang pembeli gula-gula

Apa yang berlebih dari makanan kita, kaum muslimin lebih utama

Berdiri dan kembalikanlah ia ke baitul mal[24]


Dari Nafi, bahwa Umar bin al-Khathab membagi hasil harta rampasan perang untuk kaum Muhajirin generasi pertama sebesar 4000 dirham setiap orangnya. Sedangkan untuk Ibnu Umar (putranya sendiri) hanya 3500 dirham. Sehingga ada yang berkomentar:
"Dia juga termasuk Muhajirin, kenapa kurang dari 4000."
"Sesungguhnya yang berhijrah adalah kedua orang tuanya, itu tidak seperti berhijrah sendiri." Jawab Umar.[25]


Ismail bin Muhammad bin Saad bin Abi Waqas berkata:
"Dikirimkan kepada Umar minyak misk dan anbar dari Bahrain. Umar berkata:
"Demi Allah, seandainya ada wanita yang pandai menakar untuk menakarkan minyak ini sehingga dapat aku bagi-bagikan kepada kaum muslimin."
Maka istrinya, Atikah binti Zait bin Amr bin Nafil berkata:
"Aku pandai menakar, mari aku takarkan untukmu."
"Tidak!" Sahut Umar.
"Kenapa?" Tanya istrinya.
"Aku khawatir kamu mengambilnya begini dan melakukannya begini –seraya memasukan jarinya ke sela-sela rambut di atas telinganya-, kemudian engkau mengusapkannya kelehermu, sehingga kamu mendapatkan lebihan dari hak kaum muslimin." Jawab Umar. (dalam riwayat lain).


Abdullah bin Muadz al-Anbari berkata: Naim berkata kepadaku dari (sahabiah) al-Athaarah katanya:

"Umar pernah menyerahkan minyak wangi kaum muslimin kepada istrinya untuk dijualkan, agar hasil penjualannya dapat dibagikan kepada kaum muslimin. Istrinya menjualnya kepadaku. Ia menakar dengan cara menambahi atau mengurangi serta memecah gumpalan dengan giginya. (tak ayal) ada bagian yang menempel di jemarinya. Diapun menempelkan jemarinya kebibirnya (untuk membasahinya) lalu mengusapkannya ke kerudungnya. Ketika Umar datang, dia bertanya: "Bau apa ini?"
Istrinya mengabarkan apa yang berlangsung.
Umar marah:
"Engkau mengambil minyak kaum muslimin dan memakainya!"
Umar melepas kerudung istrinya kemudian mengambil air dan menyiramkan ke kerudung itu sambil menggosok-gosokan ke tanah, kemudian menciumi baunya, lalu menyiramnya lagi dengan air sambil mengosok-gosokkan ke tanah, kemudian menciumi baunya dan mengulanginya lagi sebanyak yang Allah kehendaki.

Al-Athaarah melanjutkan:
"Dikesempatan lain aku mendatanginya lagi (untuk membeli minyak). Ketika dia menakarkan untukku, sesuatu dari minyak wangi kembali menempel di jemarinya. Diapun menempelkan jemarinya kebibirnya (untuk dibasahi) lalu mengusapkannya ke tanah. Akupun berkata:
"Dulu engkau tidak melakukan seperti ini?"
Istri umar menjawab:
"Apakah engkau lupa dengan apa yang dilakukan Umar? Aku mendapatkan begini dan begini."


Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Ashim bin Umar dari Umar, dia berkata:
"Tidak halal bagiku makan dari harta kalian selain sebagaimana aku memakannya dari pokok hartaku; roti dengan minyak atau roti dengan mentega."

Terkadang bila didatangkan keju yang dibuat dari minyak atau mentega dia (Umar) meminta izin kepada kaum muslimin dengan berkata: aku adalah orang arab tidak dapat terus menerus memakan minyak."[26]

Qotadah berkata: "Dahulu aku menjadi penanggung jawab baitul mal di masa pemerintahan Umar. Ketika menyapu baitul mal, kudapati sekeping dirham. Akupun memberikannya kepada Ibnu Umar (putra umar), lalu pulang. Tetapi kemudian datang utusan Umar memanggilku. Ketika tiba, sekeping dirham itu sudah berada ditangan Umar. Umar berkata kepadaku:
"Celaka engkau, apakah ada sesuatu atasku dalam dirimu?! ada masalah apa antara aku dan engkau?!
"Ada apa amirul mukminin?" Tanya Qatadah.
"Apakah engkau ingin umat Muhammad Rasulullah menuntutku (di akhirat) karena sekeping dirham ini?! Tegas Umar. [27]



Utsman bin Affan


Dia adalah Abu Amar al-Umawi. Bergelar Zuu an-Nurain (pemilik dua cahaya –maksudnya yang menikahi dua putri Nabi-). Malaikat malu kepadanya. Dia yang mengumpulkan umat pada satu mushaf setelah berselisih. Yang menaklukan Khurasan dan Magrib. Termasuk dari generasi awal lagi jujur. Senantiasa menegakkan solat malam dan berpuasa. Yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dan yang dipersaksikan oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Dia dinikahkan dengan dua putri Nabi, Ruqoyyah dan Ummu Kultsum. semoga Allah meridoi semuanya. Mereka yang memperhatikan saat peristiwa pengumpulan Al-Qur'an, akan tahu kedudukan dan kemuliaannya (Utsman).[28]

Dari Syarhabil bin Muslim bahwa Utsman menjamu orang-orang dengan makanan bangsawan, sementara dia sendiri masuk rumahnya dan makan (roti) campur zuka dan minyak.[29]



Ali bin Abi Thalib

Kunyahnya Abu al-Hasan al-Haasyimiy, dikenal sebagai hakim ummat. Bergelar Farisul Islam (penunggang kuda Islam). Menantu dari Rosulullah. Termasuk yang dahulu masuk Islam. Tidak pernah gagap dalam bicara. Yang berjihad di jalan Allah dengan kesungguhan. Yang bangkit dengan ilmu dan amal. Nabi Rasulullah mepersaksikannya sebagai penghuni surga. Nabi berkata:

(( مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌ مَوْلاَهُ ))

"Siapa yang aku sebagai pelindung/pemimpinnya, maka Ali adalah pelindung/pemimpinnya."

Dan sabda beliau:

(( أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْن مِنْ مُوْسَى إِلاّ أَنَّهُ لاَ نَبِي بَعْدِي ))

"Engkau bagiku seperti posisi Nabi harun pada Nabi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku."

Sabda beliau yang lain:

(( لاَ يُحِبُّكَ إِلاّ مُؤْمِن, وَلاَ يَبْغَضُكَ إِلاّ مُنَافِق ))

"Tidak ada yang mencintaimu kecuali dia itu seorang mukmin, dan tidak ada yang membencimu melainkan dia itu munafik."


Dari Abdullah bin Umair, dari seseorang yang berasal dari Tsaqif menceritakan bahwa Ali menugaskan Abdullah bin Umair memimpin daerah Akbari, bagian wilayah Kufah. Ali berkata kepadanya:
"Shalatlah zuhur di tempatku."
"Akupun mendatanginya karena tidak ada alasan bagiku untuk tidak mendatanginya. Ketika sampai, aku dapati padanya ada cawan berisi air dan cangkir. Lalu dia meminta dibawakan bathiah (mangkuk)[30], membuka tutupnya dan makan dengan rebusan air kacang. Maka akupun berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, engkau mengkonsumsi seperti ini di Irak, padahal Irak memiliki makanan yang lebih dari ini."
Dia berkata:
"Demi Allah, tidaklah aku lakukan hal ini karena bakhil terhadap makanan, dan engkau tahu bahwa tidak ada yang lebih menjaga milikku daripada aku. Aku tidak suka mengadakan sesuatu yang tidak aku miliki. Dan aku tidak suka memasukkan sesuatu ke dalam perutku kecuali yang baik.[31]

Dari Umul Walad[32], dia berkata: "Pada suatu hari aku mendatangi Ali. Di hadapannya ada kurunful maksuf (seikat ranting semacam batang sirih yang berbau wangi, biasanya digunakan pada masakan). Akupun berkata kepadanya:
"Wahai Amirul Mukminin, berikan seutas qurunful itu untuk putriku!
Ali menjawab:
"Beri aku sekeping dirham! -seraya menjulurkan tangannya-. Sesungguhnya ini adalah harta kaum muslimin; bersabarlah sampai kuterima gajiku, maka akan aku berikan kepadamu.".
Ali enggan memberiku sedikitpun darinya."


Abu Shaleh al-Hanafi berkata:

"Aku mendatangi Ummu Kultsum (putri Ali)."
Ketika sampai Ummu Kultsum berkata:
"Jamulah Abu Shaleh!."
Abu Shaleh diberi kari yang berisi kacang.
"Kalian memberiku ini padahal kalian adalah penguasa." Komentar Abu Shaleh.
"Bagaimana jika engkau melihat Amirul Mukminin, Ali ketika diberi buah utruj Hasan atau Husain memintanya untuk anak-anak mereka, tetapi Ali enggan memberikannya dan memilih membagikannya kepada kaum muslimin." Jawab Ummu Kultsum. [33]



Salman al-Farisi

Dari al-Hasan, katanya:
"Gaji Salman al-Farisi 5000 dirham sebagai pejabat daerah Zuha yang berpenduduk 30 ribu kaum muslimin. Bila berceramah kepada manusia dia mengenakan jubah yang sekaligus digunakan separuhnya untuk alas duduknya. Jika tiba gajinya dia tidak mengambilnya. Dia makan hanya dari hasil kerja tangannya.[34]



Abu Darda

Dari Muawiah bin Qurroh dia berkata: "Abu Darda memiliki onta yang dipanggil ad-Damun. Jika seseorang meminjam onta tersebut dia selalu berpesan:
"Jangan dibebani kecuali sebatas kemampuannya."
Ketika mendekati kematian, Abu Darda berkata kepada ontanya:
"Wahai Damun, janganlah engkau menuntutku (nanti di akhirat) di sisi Tuhan-ku, sungguh aku tidak pernah membebanimu kecuali sebatas yang engkau mampu."[35]

Dari Yahya bin Sa'id dia berkata: Jika Abu Darda menjadi penengah antara dua orang yang berselisih dan kedua orang yang bersengketa meninggalkannya setelah diputuskan, dia berkata kepada keduanya:
"Kembalilah kepadaku, akan aku kaji ulang permasalahan kalian."[36]



Abu Musa al-Asy'ari

Ad-Dzahabi berkata: Abu Musa adalah sosok yang senantiasa melakukan shalat di tengah malam dan puasa di siang hari, taat kepada Allah, zuhud dan ahli ibadah. Terkumpul padanya ilmu, amal, jihad dan lapang dada. Dia tidak silau dengan kekuasaan dan tidak tenggelam oleh dunia.[37]

Dari Abu Amr as-Syaibâniy, dari Abu Musa al-Asy'ary, dia berkata:
"Memenuhi rongga hidungku dengan bau busuk lebih aku sukai dari pada memenuhinya dengan bau wanita.[38]



Abu Bakroh

Hakam bin al-A'raj berkata:
"Ada seseorang yang memiliki balok kayu. Ziyad (penguasa ketika itu) meminta kayu itu, tetapi pemiliknya menolak untuk menjualnya. Ziyad pun mengambil paksa kayu itu lalu digunakannya untuk membuat atap masjid Basroh. Abu Bakroh tidak pernah shalat di masjid itu sampai kayu itu disingkirkan dari masjid.[39]



Abdullah bin Yazid al-Anshari

Dari Manshur dan al-A'masy, dari Musa bin Abdullah bahwa ayahnya mengirim budak laki-lakinya untuk berniaga ke Asbahan bermodal 4.000 dirham hingga berkembang menjadi 16.000 dirham lebih. Namun kemudian sampai berita bahwa budaknya itu meninggal dunia, sehingga pergilah ia untuk mengambil harta niaga yang menjadi warisannya itu. Sesampainya di sana diberitakan kepadanya bahwa budaknya itu berniaga dengan cara riba. Maka diapun mengambil pokok modalnya yang 4.000 dirham dan meninggalkan selebihnya.[40]



Abdullah bin Umar bin al-Khatthab (putra Umar bin al-Khatthab)

Thawus (seorang tabi'in) berkata: Aku tidak pernah bertemu seorang lelakipun yang lebih wara dari pada Ibnu Umar.[41]

Nafi berkata: Ketika Ibnu Umar mendengar suara seruling, dia menutup telinganya dengan kedua jarinya sambil menjauh dari jalan. Kemudian berkata:
"Wahai Nafi', apakah engkau masih mendengar sesuatu?"
"Tidak" Jawabku.
Diapun melepaskan jarinya dari telinganya sambil berkata:
"Kami dahulu bersama Nabi, lalu terdengar suara seperti tadi, beginilah yang dilakukan Nabi."[42]

Masih dari Nafi': Tidaklah Ibnu Umar takjub kepada sesuatu melainkan ia kemudian menyedekahkan hartanya lillah (untuk Allah). Bahkan terkadang bersedekah pada satu majelis dengan 30,000 dirham. Pernah Ibnu Umar memberi seorang budak yang bernama Ibnu Aamir sebesar 30,000 dirham dan berkata:
"Wahai Naafi', aku khawatir tergoda oleh dirham Ibnu Amir. Pergilah (kepadanya dan katakan), 'Engkau telah dibebaskan (dari perbudakan).'


Dari Qoza'ah katanya: "Aku melihat Ibnu Umar memiliki baju yang berbahan kaku. Maka akupun menawarkan kepadanya pakaian yang berbahan lunak:
"Aku bawakan untukmu pakaian yang berbahan lunak yang dibuat di Khurasan agar aku enak memandangmu"
"Perlihatkan kepadaku!" Pinta Ibnu Umar.
Ibnu Umar meremas kain itu seraya bertanya:
"Apakah ini sutra?"
"Tidak, ia terbuat dari katun." Jelasku.
Ibnu Umar bekata:
"Aku khawatir jika mengenakannya akan menjadikanku sombong dan tinggi hati, seraya membaca firman Allah:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (QS.an-Nisaa: 36).[43]

Al-Hafidz ad-Zahabi -semoga Allah merahmatinya- mengomentari:
"Setiap pakaian yang bila dikenakan akan menjadikan sombong dan tinggi hati dianjurkan untuk ditinggalkan, sekalipun tidak terbuat dari sutra atau emas. Kami pernah mendapati seorang anak muda mengenakan pakaian blus lengan panjang yang terbuat dari bulu seharga lebih dari 400 dirham. Kesombongan dan bangga diri dalam hal ini jelas sekali. Jika engkau nasehati dan menegurnya dia akan membantah, "Aku tidak sombong dan bangga diri." Padahal Ibnu Umar (putra penguasa) khawatir akan hal itu dari dirinya.


Demikian pula dengan mereka yang pengetahuan agamanya dangkal, jika pakaian/gamisnya yang turun melebihi mata kaki ditegur seraya disebutkan sabda Nabi:

(( ماَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزاَرِ ففَيِ النَّارِ ))

"Apa yang (dipanjangkan) di bawah mata kaki dari sarung tempatnya di neraka"

Akan mengatakan: "Itu dimaksudkan bagi mereka yang memanjangkannya karena sombong, sedangkan kami tidak melakukannya karena sombong."

Engkau dapati mereka keras kepala, tak mau dikatakan tidak mengerti hukum, padahal mereka hanya bersandar dengan dalil terpisah lagi umum, yang sebenarnya ada dalil khusus lain yang tidak mengaitkannya dengan kesombongan. Mereka akan mencari pembenaran dengan perkataan Abu Bakar:

"Wahai Rasulullah, sarungku melorot."

Nabi berkata:

"Engkau bukanlah orang yang mengenakannya karena sombong."

Abu Bakar tidaklah sengaja memanjangkan sarungnya melebihi mata kaki. Awalnya dia memposisikannya di atas mata kaki, tapi kemudian melorot. Nabi r telah bersabda:

(( إِزرةُ المُؤْمِنِ إِلىَ أَنْصَافِ سَاقَيْهِ, لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ ))


"Izar (pakaian bagian bawah) seorang mukmin sampai setengah betis. Tidak mengapa baginya antara setengah betis dan mata kami."


Yang juga termasuk dalam larangan ini adalah memanjangkan celana sampai menutupi mata kaki. Demikian pula memanjangakan lengan tangan dan memanjangkan ekor pakaian. Itu semua termasuk kesombongan. Dimaafkan jika memang tidak mengetahui. Sedangkan yang tahu tidak ada uzur baginya untuk tidak memberi tahu mereka yang belum tahu.

Al-Hasan dan al-Husain, putra Ali bin Abi Thalib, t cucu Rasulullah r

Dari Abu al-Jahhaf dari seorang yang berasal dari Khas'am, dia berkata: "Aku mendatangi al-Hasan dan al-Husain. Ketika itu mereka sedang makan roti dengan cuka dan kacang. Akupun berkata kepada keduanya:

"Kalian berdua adalah putra Amirul Mukminin (pemimpin kaum muslimin), tetapi mengapa memakan makanan seperti ini, dan kondisi saat ini dalam kelapangan."

"Kamu tidak banyak tahu tentang Amirul Mukminin. Kepemimpinannya untuk melayani kaum muslimin[44]" Jawab keduanya.



Abu Burdah -semoga Allah merahmatinya-

Dari Abdullah bin Iyasy al-Qotbany, dari ayahnya, bahwa Yazid bin al-Muhallab ditugasi memimpin wilayah Khurasan. Dia berkata:

"Tunjukkan kepadaku seseorang yang lengkap kebaikan pada dirinya."

Maka orang-orang pun menunjuk Abu Burdah. Ketika menemuinya dia dapati seorang yang berpenampilan menarik. Ketika diajaknya berbicara, didapatinya ternyata pembicaraannya lebih menarik dari penampilannya. Kemudian Yazid pun berkata:

"Aku mengangkatmu untuk menjabat demikian dan demikian dari wilayah kepemimpinanku."

Tetapi dia meminta maaf dan menolak, seraya berkata:

"Ayahku menceritakan bahwa Rasulallah bersabda:


(( مَنْ تَوَلَّى عَمَلاً وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ لِذَلِكَ الْعَمَلِ بِأَهْلٍ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ))

"Siapa yang mengambil tanggung jawab yang tidak mampu ditanggungnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka." [45]



Muwarriq al-Ijliy -semoga Allah merahmatinya-

Dari Quraisy bin Hayyan al-Ijliy dari Maimunah binti Maz'ur, katanya: "Al-Muwarriq al-Ijliy mendatangi putranya yang bernama Soghdi. Anak itu memberinya sebutir telur yang direbus di wadah yang terbuat dari perak. Al-Muwarriq bertanya:

"Dari mana kamu dapatkan wadah perak ini, wahai Soghdi?"

"Itu adalah barang yang digadaikan kepadaku" Jawabnya.

"Ambil kembali telurmu!" Dia menolak untuk memakannya dan tidak suka mengambil manfaat dari barang gadaian.[46]

Urwah bin az-Zubair –semoga Allah merahmatinya-

Putranya, Hisyam berkisah tentangnya: "Ayahku suka berlama-lama melakukan ibadah faridhah (wajib) dan berkata: "Ia adalah pokok harta."[47]

Ahmad bin Haatim at-Thowil berkata: "Sampai berita kepadaku bahwa ketika kaki Urwah bin az-Zubair dipotong karena penyakit kusta dia berkata:

"Sungguh yang membuat tenang hatiku dipisahkan denganmu (berujar kepada kakinya) bahwa aku tidak pernah membawamu ke tempat maksiat sama sekali."[48]

Abu Qilabah -semoga Allah merahmatinya-

Az-Dzahabi berkata: "Ketika Abu Qilabah diminta untuk menjadi hakim dia malah menghilang dan pergi dari negerinya menuju as-Syam. Dia adalah orang yang sangat karismatik.

Mengabarkan kepadaku Abdul Mukmin bin Khalid al-Haafidz, katanya: "Abu Kilabah termasuk yang diuji fisik dan agamanya. Ketika diminta menjadi hakim Bashroh ia malah lari ke as-Syam ke daerah Arisy, salah satu kota di Mesir. Itu terjadi pada tahun ke-empat hijriah. Ia kehilangan tangan, kaki serta pengelihatannya, meskipun begitu dia tetap memuji dan bersyukur kepada Allah . [49]

Wahb bin Munabbih -semoga Allah merahmatinya-

Abdul Mun'im bin Idris berkata: "Dulu Wahb bin Munabbih senantiasa mengingat-ingat perkataannya dan mengulanginya. Jika baik dia memuji Allah. Jika tidak baik, dia beristighfar (meminta ampun kepada Allah).[50]

Al-Hasan al-Bashri -semoga Allah merahmatinya-

Dari Abu Utsman at-Tamimiy, dari al-Hasan, dia berkata:

"Tidaklah mataku memandang, lisanku berucap, tanganku menjangkau atau kakiku melangkah sampai aku yakin apakah dalam ketaatan atau kemaksiatan. Jika dalam ketaatan aku melanjutkannya, tapi jika dalam kemaksiatan aku membatalkannya."[51]

Muhammad bin Siirin -semoga Allah merahmatinya-

Bakr bin Abdullah berkata:

"Siapa yang suka melihat seseorang yang paling alim yang kami temui pada zaman kami hendaklah melihat kepada al-Hasan al-Bashri. Tidak kami dapati orang yang lebih alim darinya. Siapa yang senang melihat orang yang paling wara yang kami dapati di zaman kami, maka hendaklah melihat Ibnu Siiriin. Dia sungguh meninggalkan perkara halal karena khawatir terjerumus pada dosa."

Muwarriq berkata:

"Aku tidak melihat orang yang lebih faham dalam ke-wara-annya atau lebih wara dalam kefahamannya daripada Muhammad bin Siiriin.[52]

Hisyaam bin Hassan berkata:

"Tidak aku dapati orang yang lebih wara daripada Muhammad bin Siiriin."

Syu'bah berkata: "Ibnu Hubairoh memberi Muhammad bin Siiriin tiga pemberian, tetapi dia menolak menerimanya.

Khalid bin Abi as-Solat berkata: "Aku berkata kepada Muhammad bin Sirrin:

"Apa yang mencegahmu menerima pemberian Ibnu Hubairoh?"

"Wahai hamba Allah, dia memberiku karena menduga aku baik. Jika aku seperti apa yang dia duga, maka aku tidak pantas menerimanya, sedangkan jika aku tidak seperti apa yang dia duga, maka aku tidak layak menerimanya.

Hisyaam bin Hassan berkata: "(Ketika wafat) Muhammad bin Siiriin meninggalkan 40.000 dirham yang bagi orang pada saat itu terhitung banyak.[53]

Hassan bin Abi Sinnan -semoga Allah merahmatinya-

Hassan berkata:

"Tidak ada sesuatu yang lebih mudah untuk senantiasa aku lakukan daripada wara."

Seseorang bertanya kepadanya:

"Mengapa demikian?"

"Jika ada sesuatu yang meragukan, aku cukup meninggalkannya" Jawabnya.

Dia juga mengatakan:

"Tidak ada sesuatupun yang lebih mudah daripada wara; jika ada yang meragukanmu, engkau cukup meninggalkannya!"

Al-Hafidz Ibnu Rajab -semoga Allah merahmatinya- mengomentari perkataan Hassan:

"Mudah di sini adalah bagi orang-orang yang semisal Hassan."

Muhammad bin Abdullah az-Zarrad berkata: Hassan bin Abi Sinnan keluar untuk melakukan shalat 'Id. Ketika pulang seseorang berkata kepadanya:

"Wahai Abu Abdallah, belum pernah kita saksikan shalat 'Id yang dipenuhi oleh wanita sebanyak ini sebelumnya?"

Hassan menjawab:

"Aku tidak melihat seorang wanitapun sampai aku pulang!"[54].

Ghasan bin al-Fadl berkata: "Syaikh kami yang dipanggil dengan Abu Hakim menyampaikan: "Hassan bin Abi Sinnan keluar menuju shalat 'Id. Ketika pulang, istrinya mengatakan kepadanya:

"Berapa banyak wanita cantik yang engkau lihat hari ini?”

"Celaka engkau! Tidaklah aku memandang melainkan kepada ibu jariku sejak meninggalmu sampai kembali kepadamu."[55]

Ibnu al-Mubarok berkata: "Seorang pekerja Hassan menulis surat kepadanya dari al-Ahwaaz (wilayah sekitar Iran) bahwa tanaman tebu terserang wabah (sehingga harga menjadi tinggi), maka hendaknya dia membeli gula diwilayahnya. Diapun membeli gula dari seseorang, tetapi itupun hanya dalam jumlah terbatas. Setelah diniagakan dia mendapat keuntungan sebesar 30.000 dirham. Tetapi kemudian Ibnu Abi Sinan mendatangi kembali si penjual gula (karena merasa tidak tenang) dan berkata:

"Wahai kisanak, sebelum aku membeli gula darimu, pekerjaku telah memberitakan (kenaikan harga gula akibat perkebunan tebu terserang wabah) tetapi aku tidak mengabarkannya kepadamu. Sekarang aku kembalikan apa yang telah aku beli darimu dan keuntungannya."

Si penjual gula menjawab:

"Engkau barusan telah mengabarkannya dan aku telah merelakannya."

Ibu Abi Sinanpun pulang, tetapi hatinya tetap tidak tentram. Diapun kembali lagi kepada si penjual gula:

"Wahai kisanak, aku telah berniaga dengan cara tidak semestinya, aku lebih suka membatalkan jual beli ini. Ibnu Abi Sinan terus meminta kepada di penjual gula sampai berhasil mengembalikannya[56]

Umar bin Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya-

Dari Umar bin Abdul Aziz, bahwa jika dia sedang berkhutbah di atas mimbar kemudian khawatir menjadi ujub diapun menghentikannya. Bila sedang menulis surat lalu khawatir mengandung ujub, di sobeknya surat itu seraya berkata:

"Ya Allah, aku berlindung kepada dari keburukan jiwaku."

Yunus bin Abi al-Farât mengisahkan bahwa didatangkan kepada Umar bin Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya- minyak misk dari hasil rampasan perang, tetapi dia menutup hidungnya. Orang-orang berkata:

"Wahai amirul Mukminin karena ini engkau menutup hidungmu?"

"Misk ini yang diambil adalah baunya, aku tidak inggin mencium baunya sebelum kaum muslimin." Jawabnya.[57]

Abdullah bin Rasyid –penjual minyak wangi- berkata: "Aku mendatangi Umar bin Abdul Aziz dengan membawa minyak wangi yang dibuat untuk khalifah (penguasa) dari baitul mal. Diapun menutup hidungnya seraya berkata:

"Minyak ini yang dimanfaatkan adalah baunya."[58]

Furot bin Maslamah berkata: aku membacakan kitab-kitabku kepada Umar bin Abdul Aziz setiap hari jum'at. Ketika aku telah membacakannya, dia mengambil selebar kertas dari kitabku selebar empat jari tangan kemudian menulis keperluannya pada kertas itu. Akupun bergumam:

"Amirul mukminin telah lupa."

Keesokan harinya ia mengutus seseorang agar aku datang kepadanya sambil membawa kitab-kitabku. Maka akupun mendatanginya sambil membawa kitab-kitabku. Sesampainya di sana, dia menugaskanku untuk pergi ke suatu tempat. Sekembalinya dari tugas itu dia berkata kepadaku:

"Tidak cukup waktu kita sekarang untuk melihat kitab-kitab itu."

"Engkau telah melihatnya kemarin." Timpalku.

"Pulanglah! telah cukup aku menugasimu." Kata Umar.

Ketika aku buka kitabku, terselip selembar kertas selebar apa yang telah diambilnya.

Roja bin Abi Salamah berkata:

"Sampai berita kepadaku kalau Umar senantiasa membuat makanan untuk menjamu siapa saja yang mengunjunginya, tetapi dia sendiri tidak ikut makan, sehingga orang-orang juga tidak mau makan. Umar bertanya:

"Mengapa mereka tidak mau makan?"

"Engkau tidak ikut makan sehingga mereka tidak mau makan." Jawab mereka.

Maka diapun memerintahkan menambah dua dirham setiap hari untuk biaya dapur, baru dia mau makan sehingga orang-orang pun makan bersamannya.

Hammad bin Salamah berkata: Abu Sannan menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz biasa dipanaskan air untuknya dari dapur. Diapun bertanya kepada pengurus dapur:

"Dimana air ini dipanaskan".

"Di dapur" Jawab pengurus dapur.

"Hitunglah, sudah berapa lama engkau memanaskan air di dapur!" Perintah Umar.

"Sejak waktu demikian dan demikian." Terang pengurus dapur.

"Hitung berapa nilai kayu bakar yang telah terpakai" Perintah Umar lagi.

"Jumlahnya demikian dan demikian." Terang pengurus dapur lagi.

Maka Umarpun mengambil simpanan uangnya senilai yang disampaikan, dan memasukannya kebaitul mal.[59]

Fatimah binti Abdul Malik berkata: "Suatu kali Umar sangat berselera kepada madu tetapi kami tidak memilikinya. Maka kamipun menugaskan pelayan pos dengan mengedarai tunggangannya ke Baklabak untuk membeli madu dengan membekalinya uang satu dinar, dan diapun mendapatkanya. Kemudian aku berkata kepada Umar:

"Engkau menyebut-nyebut madu, aku memilikinya, apakah engkau mau?

Kamipun memberinya madu dan ia meminumnya seraya bertanya:

"Darimana kalian mendapatkan madu ini?"

Kami menyuruh seorang pelayan pos pergi ke Baklabak dengan uang satu dinar menggunakan tunggangannya dan dia membelinya dari sana. Umar memanggil pelayan itu dan berkata:

"Bawa madu ini ke pasar dan jual, lalu kembalikan harga pokoknya kepada kami, selebihnya gunakan untuk membiayai hewan tunggangan yang dipakai. Seandainya muntahan madu dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin niscaya aku akan memuntahkannya."[60]

Ibnu as-Samâk berkata: "Pernah Umar bin Abdul Aziz membagi-bagi apel kepada orang-orang. Kemudian datang putranya dan mengambil apel dari apel yang dibagi-bagikannya. Umar pun merenggut tangan putranya dan mengambil kembali apel tersebut lalu menempatkannya bersama apel-apel lain. Putranya lalu mengadu kepada ibunya. Ibunya bertanya:

"Ada apa denganmu, putraku?"

Putranyapun menyampaikan apa yang terjadi. Maka istrinya memberi putranya uang dua dirham untuk membeli apel sehingga dia dan putranya dapat makan apel, lalu menyisakan lebihannya untuk Umar. Ketika Umar selesai dari pekerjaannya diapun masuk ke dalam rumah. Istrinya menyodorkan satu cawan apel kepadanya. Umar bertanya:

"Dari mana kau dapatkan apel ini, wahai Fatimah?"

Istrinya menyampaikan kisahnya. Umar senang dan berkata:

"Semoga Allah merahmatimu. Sungguh akupun sebenarnya berselera dengan apel tersebut."[61]


Yunus bin Ubaid -semoga Allah merahmatinya-

Hammad bin Yazid berkata: "Bila Yunus meriwayatkan (menyampaikan) hadits Rasul, setelah penyampaiannya dia akan berkata:

"Astaghfirullah (semoga Allah mengampuniku) 3x.

Asma'i menceritakan dari Muamil bin Ismail, katanya: "Datang seseorang dari Syam ke pasar sutra dan berkata:

"Apakah engkau memiliki kain seharga 400 dirham?"

"Kami memiliki yang seharga 200 dirham" Jawab Yunus bin Ubaid.

Bersamaan dengan itu terdengar suara adzan shalat sehingga Yunuspun pergi ke Bani Qusyair untuk shalat berjamaah di sana. Ketika kembali dari shalat, keponakannya telah menjual kain tersebut dengan harga 400 dirham. Diapun bertanya:

"Dari mana uang ini?"

"Itu hasil penjualan kain " Jawab keponakannya.

Yunus pun berkata kepada orang yang telah membeli kain itu:

"Wahai hamba Allah, kain yang aku tawarkan itu harganya 200 dirham. Jika engkau suka ambillah dan ambil kembali kelebihan yang 200 dirham, jika tidak, maka tinggalkanlah."

"Siapa kamu?" Tanya pembeli itu heran.

"Aku adalah salah seorang dari kaum muslimin." Jawab Yunus.

"Demi Allah, aku tanya siapa kamu dan namamu?" Tanya orang itu sungguh-sungguh.

"Aku Yunus bin Ubaid" Jawab Yunus.

Orang itu berkata:

"Demi Allah, sungguh kami pernah berada di antara musuh. Ketika keadaan menjadi sulit, kami berseru: "Wahai Allah, Tuhan-nya Yunus, tolonglah kami" atau ungkapan seperti itu.

"Subhanallah, subhanallah (mahasuci Allah 2x)" Ungkap Yunus terheran-heran.

Imam Az-Zahabi berkomentar: "Sanad riwayat kisah ini mursal (terputus)."

Amiyah bin Khalid berkata: "Seorang perempuan datang kepada Yunus membawa jubah sutra seraya berkata padanya:

"Belilah ini!"

"Berapa?" Tanya Yunus.

"500 dirham" Jawab wanita itu.

"Jubah ini harganya lebih dari itu" Yunus memberi penilaian.

"600 dirham!" Wanita itu menambahkan.

"Jubah ini harganya lebih dari itu" Komentar Yunus lagi, hingga mencapai 1000 dirham.


Basyar bin al-Mufadhal berkata: "Datang seorang wanita menjual kain sutra kepada Yunus bin Ubaid. Yunus bertanya kepadanya:

"Berapa engkau jual?"

"60 dirham" Jawab wanita itu.

Yunuspun memperlihatkan pakaian itu kepada penjual di sebelahnya seraya berkata:

"Bagaimana penilaianmu?"

"Itu harganya 120 dirham." Penilaian penjual disebelahnya.

"Aku rasa itulah harganya. Sekarang pulangalah dan mintalah izin dari keluargamu untuk menjualnya seharga 125 dirham." Tambah Yunus.

"Mereka telah memenyuruhku untuk menjualnya 60 dirham." Tegas wanita itu.

"Kembalilah kepada kelurgamu dan mintalah izin untuk menjualnya seharga yang aku sebutkan." Perintah Yunus.

Sa'id bin Amir ad-Dob'iy berkata: "Bercerita kepada kami Asma bin Ubaid, katanya: "Aku mendengar Yunus bin Ubaid berkata:

"Tidak ada yang lebih mulia daripada dua hal: dirham yang halal dan seseorang yang beramal di atas Sunnah."

An-Nadhr bin Syamil berkata: "Jika harga sutra naik, maka Bashrahlah kota yang lebih dulu naik. Yunus bin Ubaid adalah saudagar sutra, dia mengetahui kenaikan harga itu. Ketika Ubaid membeli barang dagangan dari seorang rekanannya senilai 30,000 dirham, seusai transaksi Yunus bertanya kepada rekanannya itu:

"Apakah engkau tahu kalau barang-barang ini harganya tinggi di kota ini dan itu?

"Tidak, jika aku tahu mungkin aku tidak menjualnya" Jawab rekanannya itu. "Baiklah, kembalikan uangku dan ambil kembali barang daganganmu." Minta Yunus.

Rekanannya itupun mengembalikan uangnya dan mengambil kembali barang dagangannya.

Hammad bin Salamah berkata: "Aku mendengar Yunus berkata:

"Tidaklah seseorang itu dibuat gelisah oleh mata pencahariannya melainkan juga akan dibuat gelisah kemana digunakan.[62]

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimiy -semoga Allah merahmatinya-

Amâroh bin Zâdzan berkata: "Berkata kepadaku Kahmas, Abu Abdullah:

"Wahai abu Salamah, aku telah melakukan dosa yang membuatku menangis selama 40 tahun."

"Dosa apa itu, wahai abu Abdullah?" Tanya Abu Salamah.

"Ketika saudaraku mengunjungiku, aku membelikannya ikan seharga satu danik[63]. Seusai makan aku berdiri menuju diding rumah tetanggaku yang terbuat dari tanah dan mengambil cuilan dinding itu untuk membasuh tanganku. Itulah yang membuatku senantiasa menangis selama 40 tahun."


Muammal berkata: “Sahabat kami menceritakan kepada kami bahwa sekeping dinar pernah jatuh dari tangan Kahmas dan diapun mencarinya. Ada yang bertanya kepadanya:

"Apa yang engkau cari wahai Abu Abdallah?"

"Sekeping dinarku terjatuh." Jawabnya.

Maka orang-orangpun mengambil garuk dan mulai menggaruki tanah hingga menemukan sekeping dinar. Tetapi kemudian Kahmas menolak mengambilnya dan berkata:

"Mungkin saja itu bukan dinar milikku."[64]

Hammad bin Abu Hanifah -semoga Allah merahmatinya-

Ad-Dzahabi di dalam biografi Abu Hanif menyampaikan: "Al-Faqih Hammad bin Abu Hanif adalah orang yang alim, kuat agamanya, soleh dan sempurna kewaraannya. Ketika ayahnya wafat, banyak meninggalkan titipan-titipan, sedangkan pemiliknya tidak ada di tempat. Hammad pun menyerahkan titipan-titipan itu kepada hakim.

Hakim berujar kepadanya:

"Biarlah tetap bersamamu, engkau pantas menjaganya.".

"Tolong timbang dan ikatlah barang-barang itu sampai tertunai kewajiban ayahku, setelah itu perbuatlah apa yang engkau mau!" Minta Hammad.

Sang hakimpun menuruti permintaannya menimbang barang-barang titipan itu. Namun barang-barang itu tetap saja berada di timbangan berhari-hari lamanya, sedang Hammad bersembunyi. Dia tidak menampakkan diri sampai sang hakim menyimpan barang-barang itu pada orang lain yang dapat dipercaya.[65]

Abu Amr Abdurrahman bin Amr al-Auzai' -semoga Allah merahmatinya-

Abu Ishak al-Fazaariy berkata:

"Aku tidak melihat seseorang yang lebih tawadhu dan lebih penyayang kepada manusia dari pada al-Auzai'. Jika seseorang memanggilnya dia akan menjawab dengan:

"Labaik (aku dengar dan sambut panggilanmu)."

Ya'la bin Ubaid al-Thanafasiy berkata: Seorang lelaki berkata kepada Sufyan as-Tsauriy:

"Aku bermimpi bahwa roihanah (bau semerbak) diangkat dari Syam."

"Jika benar mimpimu, berarti al-Auzai'i telah wafat pada magrib hari itu. Dan engkau akan mendapatkan kematiannya di sana (Syam)." Ujar Sufyan ats-Tsauriy menafsirkan mimpinya.


Dari Abu Hazzan, dari al-Auza'i, katanya: "Ketika disebutkan al-khardal (buah sawi) –Al-Auza'i dikenal menyukainya dan berobat dengannya- seorang lelaki dari Sofuriyah berkata:

"Aku akan mebawakannya untukmu, wahai Abu Amr. Di tempat kami banyak tumbuh secara liar."

Orang itupun membawakan satu karung buah sawi, tetapi disertakan bersamanya pertanyaan-pertanyaan. Al-Auza'i menerima bawaan itu lalu mengirimkannya ke pasar dan menjualnya, kemudian uang hasil penjualan diletakkan di dalam kantong. Diapun menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dititipkan dan menuliskan pada kantong yang berisi uang penjualan sawi:

"Tidak ada maksud dari apa yang aku lakukan ini ingin membuat kalian tersinggung, tetapi bersamanya ada titipan pertanyaan-pertanyaan, aku khawatir buah sawi itu merupakan pembayarnya."


Dari Ibnu Jabir, dari al-Auza'i , katanya: "Abdul Wahhab bin Ibrahim al-Hasyimiy –salah seorang pejabat di wilayah bagian- bersengketa dengan istrinya di Dhi'ah, wilayah Damaskus. Dia berkata kepada istrinya:

"Kita harus mengambil hakim untuk menengahi masalah ini!"

"Hakim adalah bawahanmu tentu dia akan memenangkanmu" Sergah istrinya.

"Pilihlah seseorang yang engkau rela sebagai penengah kita" Tawar suaminya.

"Al-Auza'i!" Minta istrinya.

Maka diutuslah al-Auza'i kepadanya sehingga diapun menceritakan permasalahannya sementara istrinya (mendengarkan) dibalik hijab .

"Hendaknya si suami mulai dengan menyebut argument-argumen istrinya! Minta al-Auza'i.

Abdul Wahhabpun mulai menyebutkan argument-argumen istrinya, baru kemudian menyampaikan argument-argumennya. Setelah mendengar seluruh argument, al-Auza'i memenangakan istri sang Gubernur. Segera setelah itu al-Auzai berpamitan dan meninggalkan tempat. Abdul Wahhab berkata kepada pegawainya:

"Bawa 300 dinar ini dan berikan kepadanya, katakan: 'gunakan harta ini untuk membantu menjalankan ibadahmu!"

Pegawai itupun pergi menyusul al-Auza'i. (Setelah titipan gubernur sampai) al-Auza'i berkata:

"Katakan kepada gubernur: 'Salamu alaikum warahmatullah'. Ketahuilah seandainya dia hanya memberi satu dinar niscaya aku akan menerimanya dengan izin Allah. Akan tetapi aku datang karena diminta, aku tidak suka mengambil upah karenanya." Al-auzai mengembalikan pemberian itu.

"Semoga Allah memberi Syaikh taufik atas penolakkannya." Ujar Abdul Wahhab.

Wuhib bin al-Warad -semoga Allah merahmatinya-

Ali bin Abu Bakar berkata: “Wuhib bin al-Warad berhasrat ingin minum susu. Maka bibinya mengambilkannya dari kambing milik Isa bin Musa. Wuhib pun menanyakan dari mana didapatkan susu tersebut. Bibinya menyampaikan dari mana dia mengambilnya. Tahu susu itu dari milik orang lain Wuhib menolak meminumnya. Bibinya berkata: "Minumlah!" Tetapi dia tetap menolak sehingga bibinya membujuk dengan berkata:

"Aku berharap jika engkau meminumnya Allah akan mengampunimu" (maksudnya karena dia minum bukan keinginannya tetapi karena permintaan bibinya)

"Aku tidak suka meminumnya lalu Allah mengampuniku." Tegas Wuhib.

"Kenapa?" Tanya bibinya.

"Aku tidak ingin mendapatkan pengampunan-Nya dengan bermaksiat kepadanya."



Yazid bin Zurai' -semoga Allah merahmatinya-

Al-Auza'i berkata: Aku mendengar Abu Abdullah menyebutkan tentang ke-wara-an Yazid bin Zurai’, katanya:

"Dia telah berlepas dari warisan ayahnya."

Abdul Wahhab berkata: "Aku mendengar Abu Sulaiman al-Asyqariy berkata: Yazid telah mensucikan dirinya dengan tidak mengambil warisan dari ayahnya senilai 500,000 dirham.[66]

Ibnu Hibban menyebutkan di dalam kitabnya ats-Tsiqot:

"Yazid adalah orang yang paling wara di zamannya. Ketika ayahnya yang merupakan gubernur wilayah Ublah meninggal dunia, dia mewarisi 500,000 dirham, tetapi dia tidak mau mengambilnya barang sepeserpun.[67]

Abdullah bin al-Mubarok -semoga Allah merahmatinya-

Ali bin al-Hasan bin Syaqiq berkata: “Aku mendengar Abdullah bin al-Mubarok berkata:"Sungguh menolak satu keping dirham subhat (yang diragukan kehalalannya) lebih aku sukai daripada bersedekah sebanyak seratus ribu dan seratus ribu … hingga mencapai enam ratus ribu.[68]

Ali bin al-Fudhail bin Iyadh -semoga Allah merahmatinya-

Dari Muhammad bin Abu Utsman, bahwa Ali membawa barang makanan dengan unta tunggangan milik ayahnya. Tetapi kemudian makanan yang dibawanya berkurang, sehingga upahnya dipotong sebesar satu kiro' oleh si pemilik barang. Maka datanglah al-Fudhail (ayahnya) kepada mereka seraya berkata:

"Bagaimana kalian melakukan hal ini kepada Ali?! Sungguh dahulu kami memiliki domba di Kuffah yang merumput di ladang gembalaan milik amir (gubernur). Ali tidak mau minum susu dari domba itu setelahnnya.”

Orang-orangpun berkata:

"Kami tidak tahu kalau dia itu putramu, wahai Abu Ali."

Ibrohim bin Basyar berkata: "Ayat al-Qur'an yang mengantarkan kematian Ali bin al-Fudhail adalah firman Allah:
"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya Kami dikembalikan (ke dunia)…" (QS.al-An'am:27)

Dengan kandungan ayat tersebut ia wafat, dan aku termasuk yang menyolatkannya -semoga Allah merahmatinya-. [69]

Isa bin Yunus bin abu Ishaq as-Sabi'iy -semoga Allah merahmatinya-

Al-Marwazi berkata: "Aku mendengar tentang Abu Abdullah (kunyah Isa bin Yunus) –lalu diapun menyebutkan tentang kewaraan Isa bin Yunus- .

"Ketika dia datang, hakim membawanya ke rumah dinasnya yang megah dan memberinya 100.000 dirham atau sejumlah harta, tetapi dia menolak. Tahukah engku berapa usianya ketika itu?!." Tanya Mawarzi takjub.

Sepertinya dia ingin memaksudkan bahwa usianya masih belia.[70]

Abu bakar bin Iyasy -semoga Allah merahmatinya-

Yahya bin Sa'id berkata: "Aku menemani Abu Bakar bin Iyasy pergi ke Mekkah. Belum pernah aku temui orang yang lebih wara daripadanya. Seseorang memberinya rutob (buah kurma yang masih mengkal). Tetapi kemudian dia tahu bahwa rutob yang diberikan kepadanya itu didapat dari mencuri hasil kebun milik Khalid bin Salamah al-Makhzumiy. Diapun mendatangi Khalid untuk minta dihalalkan dan bersedekah senilai harga rutob itu.[71]

Syu'aib bin Harb -semoga Allah merahmatinya-

Al-Marwazi berkata: "Aku mendengar Muhammad bin Abdullah al-Bazzar berkata: "Aku mendengar Syu'aib bin Harb berkata:

"Engkau boleh menembok dinding rumah dengan tanah dari luar. Tetapi tidak boleh memelesternya agar tidak keluar kejalan.

Aku mendengar Muhammad bin Abdullah berkata: "Aku melihat orang-orang membangun tangga untuk masjid milik Syu'aib hingga masuk ke badan jalan. Syu'aib berkata:

"Aku tidak akan menaikinya hingga diruntuhkan."[72]

Zakariya bin Adiy -semoga Allah merahmatinya-

Abu Yahya So'iqoh berkata: "Ketika Zakariya bin Adiy datang, orang-orang di tempat yang ia kunjungi memintanya untuk bekerja di kampung mereka dengan upah 30 dirham. Setelah satu bulan bekerja dia memilih pulang seraya berkata:

"Aku merasa bahwa pekerjaanku tidak sesuai dengan kadar upahku."[73]


Basyar bin Haris -semoga Allah merahmatinya-

Muhammad bin Idris berkata: Aku mendengar basyar bin haris berkata:

"Tidak selayaknya seseorang sekarang ini memuaskan dirinya dengan yang halal. Karena jika dia puas dengan yang halal, jiwanya akan menuntunnya kepada yang haram."

Bagaimanakah jika kita bandingkan dengan kondisi jiwa-jiwa yang kotor sekarang ini.

Dia berkata pula:

"Hendaknya seseorang itu memiliki sesuatu yang dapat menjadikannya baik atau mengangkat derajatnya atau menguatkannya atau membersihkannya dari ketamakan ini.[74]

Ayyub bin Rasyid -semoga Allah merahmatinya-

Abu al-Wali Robah bin al-Jarroh berkata: "Aku bertemu dengan Abu Syu'aib, Ayyub bin Rasyid. Aku tidak dapati orang yg lebih wara darinya. Dia menyapu pekarangan rumahya. Jika ditemui sesuatu yang berasal dari pekarangan tetangganya, dikumpulkannya lalu diserahkan kepada pemiliknya.[75]

Atha bin Muhammad al-Hiraniy -semoga Allah merahmatinya-

Al-Marwazi berkata: "Aku mendengar Abu Abdullah, Ahmad bin Hanbal menyebutkan tentang kewaraan Atha bin Muhammad al-Hiraniy, katanya:

"Jika Atha pergi ke Mekkah dia membawa bersamanya makanan untuk dijual seraya berkata:

"Aku tidak mau menyainggi harga yang ditetapkan penduduk Mekkah".

Yang demikian itu bersumber dari pemahamannya akan firman Allah:

"…Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih." (QS.al-Hajj:25)

Ahmad bin Hanbal berkata:"Aku tidak dapatkan seorangpun yang berpandangan seperti ini selain dia.[76]

Abu al-Abbas al-Haththab -semoga Allah merahmatinya-

Ibnu Abu Khalid al-Khaththab berkata: "Aku bersama Abu Abbas al-Khaththab mendatangi seorang yang tengah berkabung atas kematian istrinya. Di rumah itu terbentang tikar. Abu al-Abbas berdiri di pintu rumah seraya bertanya:

"Apakah engkau memiliki ahli waris selain dirimu?"

"Ya, ada" Jawab orang itu.

"Mengapa engkau duduk di atas sesuatu yang bukan milikmu!" Tegur Abu al-Abbas atau ucapan yang semakna.

Lelaki itu pun beranjak dari tikar yang diduduki.

Ahmad bin Hanbal -semoga Allah merahmatinya-

Al-Marwazi juga berkata: "Abu Abdullah diberi sepatu baru. Diapun memakainya dan sempat bermalam bersamanya. Ketika subuh dia berkata kepadaku:

"Aku telah memikirkan sepatu ini sepanjang malam. Ia telah menyibukkan hatiku. Aku telah bertekat untuk tidak mengenakannya. Berapakah yang tersisa (dari umur)?! Yang berlalu lebih banyak dari yang tersisa."

Lalu dia menyerahkan sepatu lamanya kepadaku. Tambal pada tempat ini dengan tambalan dan kencangakan talinya! Kemudian berkata:

"Tahukah engkau, sudah berapa lama ia bersamaku?! Sudah kurang lebih 16 tahun. Apapun yang terjadi padaku ia tengah aku kenakan. Sedangkan yang baru ini telah menyibukkan hatiku.[77]



Abu Ishak as-Syairoziy -semoga Allah merahmatinya-

As-Sam'aniy berkata: "Suatu hari Abu Ishak masuk masjid untuk makan siang, tetapi tanpa disadari uang dinarnya tertinggal. Ketika ingat dia kembali dan mendapatkan uang tersebut. Namun kemudian dia berfikir dan berujar:

"Mungkin ini milik orang lain yang juga tertinggal." Diapun urung mengambilnya.[78]

Al-Malik al-Adil Nuruddin -semoga Allah merahmatinya-

Ibnu al-Atsir berkata: "Aku meneliti biografi, dan tidak aku dapati setelah Khulafa ar-Rosyidin dan Umar bin Abdul Aziz yang lebih baik dan lebih bersungguh-sungguh dalam berbuat adil dari pada biografi al-Malik al-Adil. Dia tidak makan, berpakaian atau berbuat sesuatupun melainkan dari miliknya sendiri, jatah dari hasil rampasan perang. Ketika istrinya meminta nafkah kepadanya, diapun memberinya 3 toko yang kepemilikiannya diserahkan sepenuhnya, seraya berkata:

"Aku tidak memiliki selain ini, adapun yang ada padaku selebihnya adalah titipan kaum muslimin.

Ad-Dzahabi berkata:

"Al-malik adalah orang yang agamis lagi menjaga kesucian diri. Tidak menggunakan harta benda melainkan pada sesuatu yang bermanfaat.[79]


Dua orang lelaki dari kalangan Tabi'in -semoga Allah merahmatinya-

Dari Abu Bakar bin Iyasy, dari Hushain, dari Sya'bi, katanya: "Datang dua orang laki-laki kepada Syuraih. Salah seorang dari keduanya berkata:

"Aku membeli sebuah bangunan dan aku dapati 100 ribu dirham di dalamnya."

Si penjual meminta si pembeli untuk mengambilnya, tetapi si pembeli menolak.

"Kenapa aku harus mengambilnya?! yang aku beli hanyalah bangunannya. Justru engkaulah yang harus mengambilnya!" Tolak si pembeli.

"Kenapa harus aku yang mengambil, aku telah menjual bangunan itu beserta apa yang ada di dalamnya." Tegas si penjual.

Terjadilah saling tolak di antara keduanya. Maka Syuraihpun menemui Ziyad dan mengabarkan perselisihan keduanya.

"Aku tidak menyangka bahwa orang-orang seperti ini masih ada." Ujarnya.

Syuraih berkata:

"Masukkan kebaitul mal dan jadikan pada setiap kantong kadar genggaman untuk dibagikan kepada kaum muslimin. Kemudian berkata kepada Sya'bi:

"Bagaimana reaksi Amir (gubernur) dengan kejadian ini?"

"Ia takjub dengan apa yang berlangsung" Jawab Abu Bakar bin Iyasy. .[80]



Pengembala Kambing

Abdullah bin Dinar berkata: "Aku pergi ke Mekkah bersama Ibnu Umar t. Ketika kami beristirahat, turun dari atas bukit seorang pengembala bersama gembalaannya ke arah kami. Ibnu Umar berkata kepadanya:

"Apakah engkau pengembala?

"Ya" jawab pengembala itu.

"Jualah seekor kepadaku!" Minta Ibnu Umar.

"Aku hanyalah seorang budak."

"Katakan kepada tuanmu bahwa kambingnya dimakan srigala." Bujuk Ibnu umar.

"Dimana Allah U?!

"Dimana Allah?" Umar mengulang-ulang ungkapan anak itu lalu menangis.

Ibnu umar kemudian membeli budak pengembala tersebut lalu memerdekakannya.[81]


Wanita Solehah

Muhammad bin Rûh dari al-Abbas bin Sahm berkata: Salah seorang wanita solehah mendapat kabar kematian suaminya ketika dia tengah mengadon roti. Seketika itu juga dia berhenti mengadon seraya berkata:

"Pada adonan ini kini ada hak orang lain.[82]

Muhammad bin Rûh mengabarkan dari sebagian ahli ilmu bahwa seorang wanita mendapat kabar kematian suaminya sementara lampu sedang menyala. Diapun mematikan lampu seraya berkata:

"Pada minyak lampu ini sekarang ada hak orang lain.

Penutup

Kisah-kisah yang menarik ini hanyalah sekelumit dari kisah-kisah yang ada dalam kitab-kitab biografi dan sejarah. Tidak ada maksud untuk merinci maupun berpanjang lebar. Yang terpenting adalah mengisyaratkan akan kisah-kisah keteladanan mereka agar menjadi obor dan mercusuar perjalan.
-------------
[1] Majmu Fatawa X/617.

[2] Hadits di atas dikeluarkan oleh at-Turmudzi, Ibnu Majah dan selain keduanya. Hadits ini divalidkan oleh sekumpulan ulama dan dilemahkan oleh sebagian lain, dan inilah yang kuat. Lihat perinciannya pada kitab [Jami al-Ulum wa al-Hikam], di awal penjelasan hadit ke-12, hadits ini.

[3] Madarijus salikin: II/22

[4] Penjelasan kitab Riyad as-SolihinVI/168

[5] Madariju as-Salikin II/21, dengan sedikit penyederhanaan

[6] Majmu al-Fatawa XX/138.

[7] Mundziri -semoga Allah merahmatinya- berkata: "Hadits ini sebagaimana yang terdapat dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib I/103, diriwayatkan oleh at-Thabaroni di dalam kitab al-Ausaath dan al-Bazzar dengan sanad yang hasan." Telah disahihkan oleh Syaikh al-Albani -semoga Allah merahmatinya- di dalam kitabnya Sahih al-Jami' no.4214. Lebih luasnya mengenai hadits-hadit wara ini lihat Mausu'ah Nadhroh an-Naim VIII/3619.

[8] Majmu' Fatawa X/615.

[9] Hadits riwayat al-Bukhari, kitab: az-Zakah, bab: Apa yang diceritakan mengenai sedekah kepada Nabi r no.1491. Muslim, kitab: zakat bab: Rasulullah r diharamkan merenerima zakat no. 2470 dengan penjelasan Imam Nawawi.

[10] Demikian dalam cetakan terbitan Ibnu Hazam. Dalam cetakan lain 'mujtahidun' (mereka berijtihad).

[11] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.34,35.

[12] Ibid no.27.

[13] Kitab Al-wara oleh al-Mawarzi hal.70.

[14] Ibid hal.21.

[15] Dalam menyusun mengurutan ini saya menempuh apa yang ditempuh oleh al-Hafidz an-Naqid az-Dzahabi dalam siar a'lam an-Nubala.

[16] Sebagian riwayat sengaja tidak dinukilkan disini karena menyelisihi al-Quran dan Sunnah atau merupakan wara yang dipaksakan yang berlebih-lebihan sebagaimana yang ditelah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiah, atau sebagaimana kaidah: "berbiicarah kapada manusia dengan apa yang dia mengerti" wallahu waliut taufik.

[17] Bukhari kitab: al-Luqotoh bab: Jika menemukan kurma di jalan no.2431. Muslim kitab: az-Zakah bab: Rasulullah r diharamkan merenerima zakat no.2475 -dengan penjelasan Nawawi-.

[18] Bukhari kitab: al-Luqotoh bab: Jika menemukan kurma di jalan no.2432. Muslim kitab: az-Zakah bab: Rasulullah r diharamkan merenerima zakat no.2473 -dengan penjelasan Nawawi-.

[19] Dalam musnad Ahmad XI/328 no.6720 cetakan Muasasah ar-Risalah.

[20] Tazkiroh al-Huffaz oleh ad-Zahabi I/2.

[21] Bukhari, kitab: Manaqibul Anshar bab: Ayamul Jahiliah no.3842. Dan lihat al-Wara oleh al-Marwazi: siapa yang curiga makanan subhat (meragukan) hendaknya memuntahkannya hal.90 dan sesudahnya.

[22] Al-Muatha, kitab: al-Kalam, bab: dari apa-apa yang dikhawatirkan dari lisan no.1906 cetakan dar al-Ma'rifah.

[23] Kunyah adalah panggilan yang di dahului dengan abu, umu, ibnu atau bintu -pent.

[24] Solahul Ummah fi Uluwil Himmah I/5.

[25] Bukhari, kitab: Manaqibul Anshar, bab: Hijrah Nabi r dan sahabatnya ke Madinah no.3912.

[26] Al-Wara oleh Ibnu Abi Dunya no.188,190.

[27] Al-Wara oleh Ibnu Abi Dunya no.229, redaksi lengkapnya terdapat pada cetakan Dar Ibnu Hazm.

[28] Tazkirotul Huffaz I/8.

[29] Hilyatul Awliya I/60 cetakan Darul Fikr.

[30] Wadah besar terbuat dari kaca untuk meletakan kuah.

[31] Kitab al-Wara oleh Ibnu Abi Dunya no.58. Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitabnya al-Wara no.127 panjang lebar.

[32] Umul walad adalah gelar bagi budak perempuan yang dinikahi tuannya dan memiliki anak darinya.

[33] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.130,131. Dalam cetakan Dar ibnu Hazm janub bukan hubub.

[34] Al-Wara oleh al-Marwazi hal.26.

[35] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.179.

[36] Siar A'lam an-Nubala II/345.

[37] Siar A'lam an-Nubala II/396.

[38] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.89.

[39] As-Sair III/7 sumbernya dari Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.224. terdapat ketidak lengkapan. Kelengkapannya terdapat pada terbitan Dar ibnu Hazm.

[40] Al-Wara oleh al-Marwazi hal.51.

[41] Al-Wara oleh al-Marwazi hal.69.

[42] Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab: al-Adab, bab: Dibencinya musik dan seruling no.4924 dan diriwayatkan pula oleh selainnya. Diakhir hadits ini Abu Dawud berkomentar: "Ini adalah hadits munkar." Para ulama hadits lain tidak sependapat dengannya dan mensahihkan (menfalidkan) hadits ini. Periksa kitab Aun al-Ma'bud penjelasan kitab Sunan Abu Dawud pada hadits ini. Disebutkan dalam kitab az-Zawajir 'an Iktirof Munkar: "Hadits ibnu Umar diperselisihkan oleh para penghapal hadits. Ibnu Hibban memasukkan hadits ini dalam sahihnya. Ketika al-Hafidz Muhammad bin Nasr as-Salamy ditanya tentang hadits ini dia menjawab: "Hadits ini sahih."

[43] Siar A'lam an-Nubala III/233.

[44] Maksudnya kepemimpinan Ali bukan untuk memanjakan keluarganya tetapi untuk melayani kaum muslimin. Tentu berbeda sekali dengan kondisi para pemimpin sekarang ini yang memanfaatkan kekuasaan untuk kesenangan keluarga, kelompok atau golongannya -pent.

[45] Tazkiroh al-Huffaz I/95.

[46] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.225.

[47] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.35.

[48] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.144.

[49] Tazkiroh al-Huffaz I/94.

[50] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.100, terbitan Dar Ibnu Hazm. Dalam terbitan Maktah al-Qur'an: "Kami menghapal ucapannya, setiap hari kami menghitungnya."

[51] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.195.

[52] Al-Wara oleh al-Marwazi hal.69.

[53] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.180,203,204,210,211.

[54] Maksudnya: "Aku tidak melihat kepada wanita sampai pulang." Yang demikian karena ia menundukkan pandangannya, sehigga tidak melihat wanita -semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas-.

[55] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.67, 68.

[56] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.169. dan Jami al-'Ulum wa al-Hikam I/221.

[57] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.88.

[58] Al-Wara oleh al-Marwazi hal 43. Di akhir redaksi: "Aku katakan kepada abu Abdullah: 'Apakah boleh aku meriwayatknya darimu? Diapun membolehkannya."

[59] Al-Wara oleh al-Marwazi hal 217-219 Cetakan Daar Ibnu Hazm.

[60] Al-Wara oleh al-Marwazi hal 92. Dan Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya hal.147 no.169 cetakan Daar Ibnu Hazm.

[61] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.221.

[62] Siar A'lam an-Nubala VI/289,290,293.

[63] Danik adalah nilai mata uang ketika itu.

[64] Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.106,107.

[65] Siar A'lam an-Nubala VI/403.

[66] Al-Wara oleh al-Marwazi hal 9.

[67] Ats-Tsiqoot oleh Ibnu Hibban VII/632.

[68] Kitab al-Wara oleh Ibnu Abi Dunya no.206.

[69] Siar A'lam an-Nubala VIII/446.

[70] al-Wara oleh al-Mundziri hal.12. Juga lihat Siar A'lam an-Nubala VIII/493.

[71] Siar A'lam an-Nubala VIII/499. Juga tedapat dalam Kitab al-Wara oleh Ibnu Abi Dunya no.121 dengan lafal yang berbeda.

[72] Al-Wara oleh al-Marwazi hal.9.

[73] Maksudnya: bahwa upah yang diterimanya melebihi kadar pekerjaannya. Dia meninggalkannya sebagai bentuk kewaraan -semoga Allah merahmatinya-. Bagaimana jika dibandingkan dengan mereka yang meminta lembur atau kerja tambahan tetapi malah tidak bekerja sama sekali.

[74] Al-Wara oleh al-Marwazi hal.10.

[75] Kitab al-Wara oleh Ibnu Abi Dunya no.58.

[76] Al-Wara oleh al-Marwazi hal.7.

[77] Ibid hal.85.

[78] Siar A'lam an-Nubala XVIII/456.

[79] Ibid XX/534.

[80] Kitab al-Wara oleh Ibnu Abi Dunya no.212.

[81] Siar A'lam an-Nubala III/216.

[82] Maksudnya: bersamaan dengan kematian suaminya, tepung yang tengah diadonannya otomatis menjadi bagian dari warisan yang harus dibagikan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Saling menghormatilah sesama muslim... Gunakan kata atau kalimat yang baik dan sopan. Mari selalu mengingat bahwa kita akan mempertanggung jawabkan semua ucapan dan perbuatan kita kepada Allah azza wa jalla